Menu

Mode Gelap
Model Overlapping Generation Ungkap Dampak MBG Muhammadiyah Tegaskan ‘Aliansi Muda Muhammadiyah’ Bukan Sikap Resmi Organisasi Dibawah Kepemimpinan Listyo Sigit Polri Hadir Sebagai Aktor Pembangunan Nasional Destinasi Wisata Alam Menarik di Kabupaten Bone Bolango Ketahuan ‘Kumpul Kebo’ Siap-siap Dipidana di KUHP Baru Amien Rais Sebut KUHP Baru Gerbang Otoritarianisme

NASIONAL

Ustaz Das’ad Latif Ajak Umat Boikot Total Produk Israel

badge-check


					Foto: Ustaz Das’ad Latif/tangkapan layar Perbesar

Foto: Ustaz Das’ad Latif/tangkapan layar

INAnews.co.id, Jakarta– Ustaz Das’ad Latif menggemparkan jamaah dalam acara solidaritas Palestina pada hari ini, Ahad (3/8/2025), di Monas, Jakarta Pusat, dengan seruan boikot total produk-produk yang diduga mendukung Israel. Dengan gaya khas humornya, ustaz asal Makassar ini menyebut boikot sebagai bentuk “hijrah modern” yang wajib dilakukan umat Islam.

“Hijrah membela Palestina itu berhenti menggunakan produk-produk Yahudi. Dan ini ujung tombaknya ibu-ibu,” tegas Das’ad di hadapan ribuan jemaah yang hadir.

Dalam ceramahnya yang berjudul “Tiga Syarat Mendapat Rahmat Allah”, Das’ad secara khusus menyoroti peran strategis kaum perempuan dalam gerakan boikot. Alasannya sederhana: mereka yang memegang kendali belanja rumah tangga.

“Siapa yang belanja di rumah? Siapa yang belanja ke pasar? Siapa yang belanja ke warung? Maka mulai hari ini, ibu pilih-pilih mana produk lawan kita,” ujarnya sembari menunjuk sejumlah ibu-ibu di barisan depan.

Das’ad kemudian memberikan contoh konkret produk-produk yang menurutnya harus diboikot, mulai dari ayam goreng cepat saji, roti bermerek, sabun, hingga rokok. “Senang ayam goreng [merek tertentu]? Hijrah! Beli ayam goreng tetangga,” serunya.

Salah satu momen yang mencuri perhatian adalah ketika Das’ad mengaitkan rokok dengan dukungan terhadap Israel. Saat ada jemaah yang bertanya, “Apa hubungannya perokok dengan jihad, Ustaz?”, Das’ad menjawab tegas.

“Kau googling. Semua produk-produk rokok lawan kita punya,” katanya. “Mau merokok? Kau kembali ke rokok gunung zaman Belanda, itu jelas pribumi punya.”

Pernyataan ini menuai tawa sekaligus anggukan setuju dari jemaah. Das’ad menegaskan bahwa “hijrah konkret” berarti beralih dari produk lawan ke produk dalam negeri.

Ceramah Das’ad sebenarnya bermuara dari tafsir ayat Alquran tentang tiga syarat mendapat rahmat Allah. Pertama, beriman kepada Allah—yang ia kritik mengaku beriman tetapi tidak hadir dalam aksi solidaritas Palestina. “Kalau kau beriman kepada Allah, kenapa ketika ada aksi bela Palestina kau tidak hadir?” tantangnya.

Kedua, menyoal hijrah. Soal hijrah ini ia artikan sebagai boikot ekonomi. “Hijrah membela Palestina: berhenti menggunakan produk-produk Yahudi,” jelasnya. Ketiga soal jihad, yang menurutnya tidak selalu berarti perang, melainkan bisa dengan harta melalui sedekah dan dukungan finansial.

Untuk menjelaskan konsep persaudaraan sesama muslim, Das’ad menggunakan analogi tubuh manusia yang menjadi ciri khas dakwahnya.

“Tangan kanan gatal, tanpa diundang kiri yang menggaruk. Begitu kita: meskipun saudara kita ada di Palestina, dia sakit, ibaratnya badan kita itu merasa sakit,” ujarnya.

Ustaz yang “mengaku” masih keluarga dengan Presiden Prabowo ini menegaskan bahwa orang beriman tidak akan merasa nyaman makan enak di rumah sementara saudaranya di Palestina menderita.

Das’ad juga memberikan kritik pedas terhadap umat yang apatis terhadap penderitaan Palestina. Dengan menyinggung sejarah penjajahan Indonesia, dia bertanya, “Bangsa Indonesia pernah dijajah Belanda, pernah dijajah Jepang. Nyaman? Lalu kenapa ketika saudaramu di Palestina dijajah, kalian merasa nyaman?”

Bagian lain yang menarik perhatian adalah seruannya untuk bersedekah, yang dia sebut sebagai bagian dari jihad. Dengan gayanya yang khas, Das’ad menyindir jemaah yang enggan mengeluarkan uang.

“Kalau ada di dompet kau tidak mau keluarkan, namanya pelit. Orang kampung saya bilang ‘seke’ – kikir seperti paku jembatan,” katanya sambil tertawa.

Das’ad bahkan menantang, “Carikan saya di Indonesia yang bangkrut karena bantu Palestina. Yang bangkrut itu gara-gara selingkuh, gara-gara judi, gara-gara narkoba.”

Meski tidak eksplisit, ceramah Das’ad juga mengandung pesan politik halus. Dia menyebut kehadiran “para perwira pejabat sipil militer TNI-Polri” dalam acara tersebut dan menekankan bahwa rakyat Indonesia meski mayoritas miskin, mampu berkumpul untuk membantu Palestina.

Ceramah yang berlangsung sekitar 15 menit ini menuai respons antusias jemaah. Banyak yang mengangguk setuju ketika Das’ad menyerukan boikot produk, terutama kaum ibu yang memang menjadi target utama seruannya.

Acara solidaritas Palestina ini sendiri dihadiri ribuan jemaah dari berbagai kalangan.

Seruan boikot produk Israel memang bukan hal baru dalam gerakan solidaritas Palestina di Indonesia. Namun, pendekatan Das’ad yang mengemas seruan tersebut dalam konteks ibadah dan dengan gaya humor khasnya membuat pesan ini lebih mudah diterima dan diingat jemaah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Model Overlapping Generation Ungkap Dampak MBG

12 Januari 2026 - 13:38 WIB

Muhammadiyah Tegaskan ‘Aliansi Muda Muhammadiyah’ Bukan Sikap Resmi Organisasi

9 Januari 2026 - 22:52 WIB

Ketahuan ‘Kumpul Kebo’ Siap-siap Dipidana di KUHP Baru

9 Januari 2026 - 11:15 WIB

Populer GERAI HUKUM