INAnews.co.id, Jakarta– Mengapa konflik Palestina-Israel tidak pernah selesai meski PBB telah mengeluarkan puluhan resolusi sejak 1948? Muhammad Husein, aktivis yang 12 tahun tinggal di Gaza, memberikan jawaban mengejutkan.
“Israel bukan sebuah negara. Israel adalah proyek kolonial Barat yang strategis,” ujar Husein mengutip Prof. Dr. Abdul Fattah Alwaisi dari University of Essex disampaikan ke Akbar Faizal lewat kanal YouTube Akbar Faizal Uncensored, diunggah Kamis.
Husein menjelaskan, “Palestina tidak sedang menghadapi satu negara Israel, tapi sedang menghadapi seluruh kekuatan Barat dengan perangkat politik, militer, dan ekonomi mereka.”
Buktinya? Ketika Israel hampir kolaps pasca serangan 7 Oktober 2023, dalam hitungan hari Amerika, Inggris, Prancis, Spanyol, dan Italia semua mengirim senjata dan amunisi ke Israel.
“Apa hubungan mereka dengan Israel sampai segitunya? Ya karena Israel adalah representasi Barat. Israel ditanam untuk menjaga kepentingan mereka di jantung bumi,” lanjut Husein.
Tentang resolusi PBB terbaru yang didukung lebih dari 100 negara, Husein tegas: “Tidak ada maknanya. Ini bukan pertama kali. Resolusi 181 tahun 1967 memerintahkan Israel menarik pasukan dari Palestina, tidak pernah dijalankan. PBB adalah alat Barat untuk melegitimasi serangan mereka.”
Husein menggarisbawahi pentingnya Palestina dalam geopolitik dunia: “Para sejarawan Barat menyebutnya ‘heartland theory’ – teori jantung dunia. Siapa yang menguasai Palestina, menguasai dunia. Ini satu-satunya wilayah yang menghubungkan tiga benua besar: Asia, Afrika, dan Eropa.”
“Kenapa dunia kacau balau? Politik najis, ekonomi najis, hukum najis? Karena yang menguasai tanah suci ini adalah orang-orang najis. Untuk mengembalikan stabilitas dunia, kita harus bersihkan dulu jantung dunia ini,” tegasnya.
Husein menekankan, Indonesia tidak bisa sendirian: “Mau ganti presiden sepintar, secerdas, sesaleh apapun, tidak akan bisa mengubah nasib Indonesia kalau tidak ikut menulis ulang sejarah geopolitik dunia. Dan kancah pertempuran untuk mengubah arah geopolitik itu ada di Palestina.”






