INAnews.co.id, Jakarta– Hari ini saja (beberapa waktu lalu, red.), dari pagi hingga sore, 40-50 nyawa melayang di Gaza. Begitu update yang diterima Muhammad Husein dari teman-temannya yang masih bertahan di sana—beri tahu Akbar Faizal di kanal YouTube-nya diunggah Kamis.
“Biasanya tidak berhenti sampai mencapai target 100 nyawa per hari. Ini konsisten selama 2 tahun terakhir. Pernah satu hari itu 500 nyawa dibunuh. Bom tidak berhenti,” ungkap Huseinz
Yang lebih mengerikan, Israel tidak hanya membunuh warga sipil, tetapi secara sistematis membunuh tenaga medis. “Setiap hari, tiga tenaga medis dibunuh. Mereka membunuh dokter spesialis. Artinya yang terluka tidak bisa dirawat karena dokternya sudah dibunuhi,” jelas Husein.
Statistik mencengangkan: hampir 300 jurnalis telah syahid dalam 2 tahun terakhir. “Setiap 3 hari, satu jurnalis dibunuh. Wartawan Aljazeera sudah banyak yang syahid seperti Anas Assyarif,” tambahnya.
Mengapa jurnalis menjadi target utama? “Israel sangat takut kedatangan jurnalis dan aktivis independen. Mereka akan membongkar kejahatan yang selama ini disensor. Yang kita lihat di media sosial selama 2 tahun ini tidak lebih dari 5% dari kejadian sebenarnya di Gaza,” tegas Husein.
Husein yang pernah tinggal 40 hari di Gaza saat awal serangan 7 Oktober 2023 mengatakan, “Bahkan 40 hari awal saja sudah luar biasa mengerikan. Bayangkan 2 tahun ini apa yang terjadi jika diinvestigasi langsung.”
Ia menegaskan mengapa Israel begitu brutal mencegah bantuan masuk dan membunuh saksi mata: “Ini kejahatan yang sempurna yang dipertunjukkan oleh bangsa yang menyebut diri manusia unggul. Mereka takut semua kebiadaban mereka terbongkar.”






