INAnews.co.id, Jakarta– Operasi pembajakan besar-besaran terjadi di perairan menuju Gaza. Angkatan Laut Israel membutuhkan waktu 12 jam untuk menyergap dan menculik seluruh aktivis dari 40 kapal Global Sumud Flotilla.
Muhammad Husein, satu-satunya aktivis Indonesia yang berlayar hingga zona intersepsi, menggambarkan detik-detik mencekam itu: “15 kapal perang Israel mengelilingi kami. Kemudian kapal komando cepat mulai menyerang satu per satu. Setiap kapal didatangi 10-20 tentara bersenjata lengkap, menodongkan senjata laras panjang.”
Sebelum penyergapan, kapal-kapal flotilla telah diserang sejak di Tunisia. Dua kapal utama – Familia Madira dan Alma – dibom oleh drone Israel, meski cepat dipadamkan.
Para aktivis telah dilatih protokol nonviolence ketat: buang handphone, berkumpul satu tempat, tangan ke depan, tidak ada gerakan mencurigakan. “Kami ingat tragedi Mavi Marmara 2010. Perlawanan sekecil apapun dijadikan legitimasi Israel untuk menembak,” ujar Husein ke Akbar Faizal lewat kanal YouTube-nya yang diunggah Kamis.
Setelah disergap, lanjut Husein, seluruh aktivis dipindahkan paksa ke kapal Israel dan dibawa ke pelabuhan Ashdod. Dari sana, mereka diculik ke penjara Ketsiot di Gurun Negev.
“Ini bukan penangkapan, ini pembajakan dan penculikan. Mereka melawan 47 negara, termasuk negara-negara sahabat mereka sendiri seperti Spanyol dan Italia,” tambah Husein.
Seluruh bantuan kemanusiaan yang dibawa – makanan, obat-obatan, logistik – disita Israel. “12.000 kontainer bantuan internasional sudah mengendap di perbatasan Rafah. Makanya kami berpikir, ngapain terus kirim logistik kalau tidak sampai? Ayo kita tembus dulu blokadenya,” jelasnya.
Misi ini mengusung slogan kuat: “When our government fail, we sail” – ketika pemerintah kami gagal, kami berlayar.






