Menu

Mode Gelap
Audit Ungkap 152 Nama dan Rp3,3 Miliar Kerugian Negara, Mengapa Hanya Enam Terdakwa Waspada Kudeta! Didu Ungkap Skenario Gelap Kelompok yang Tak Percaya Prabowo CELIOS: Perjanjian Dagang ART Indonesia-AS Serahkan Kedaulatan Ekonomi Bulat-bulat ke Amerika Pakar: Penetapan Adies Kadir Hakim MK Cacat Hukum dan Sarat Kepentingan Politik Hukum di Indonesia Disebut Hanya Tegak di Permukaan, Mafia tak Tersentuh Meragukan Arah Pemerintahan Prabowo: Pintu yang Sama dengan Jokowi

TNI/POLRI

TNI Dituding Terlibat Konflik Agraria dan Pelanggaran HAM Masyarakat Adat

badge-check


					Foto: dok. TNI AD Perbesar

Foto: dok. TNI AD

INAnews.co.id, Jakarta– Pelibatan TNI dalam program Food Estate di Papua Selatan telah menyeret institusi militer ke dalam konflik agraria dengan masyarakat adat dan berpotensi memicu pelanggaran HAM.

YLBHI mencatat keterlibatan TNI dalam Food Estate dijustifikasi oleh Kementerian Pertahanan sebagai leading sector untuk mendukung aspek strategis dan pengamanan ketahanan pangan nasional, terutama di wilayah perbatasan.

Ini dilakukan melalui pengerahan prajurit TNI dalam pembukaan lahan khususnya di Provinsi Papua Selatan, yang bersinggungan langsung dengan tanah ulayat masyarakat adat.

“Pelibatan militer ini, karena alasan sekuritisasi pangan, membuat TNI tidak saja semakin menjauh dari fungsinya sebagai alat pertahanan negara, namun juga melibatkan lembaga ini ke dalam konflik-konflik agraria dengan masyarakat adat setempat,” kritik YLBHI dalam siaran persnya, Sabtu (4/10/2025).

Yang lebih berbahaya, ini membuat para prajurit TNI terlibat dalam pelanggaran HAM karena harus mengamankan kepentingan-kepentingan non-militer.

YLBHI mempertanyakan logika sekuritisasi pangan yang berujung pada militerisasi sektor pertanian. “Sekuritisasi pangan tidak berarti TNI harus melakukan produksi pangan itu sendiri.”

Pengalaman food estate di Kalimantan Tengah yang gagal dan tidak jelas kelanjutannya menjadi pembelajaran bahwa pelibatan militer dalam sektor pertanian tidak menjamin keberhasilan program.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

CELIOS: Perjanjian Dagang ART Indonesia-AS Serahkan Kedaulatan Ekonomi Bulat-bulat ke Amerika

25 Februari 2026 - 18:45 WIB

BRICS atau Trump? Bukti Indonesia Kehilangan Orientasi Politik Luar Negeri

24 Februari 2026 - 17:12 WIB

Diplomasi Tarif Prabowo-Trump Gagal Total dan Konyol

23 Februari 2026 - 18:48 WIB

Populer NASIONAL