INAnews.co.id, Jakarta– Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Ustaz Adian Husaini menyoroti tajam kondisi perguruan tinggi Indonesia yang dinilai lebih fokus mengejar peringkat dunia ketimbang mempersiapkan lulusannya menghadapi dunia kerja.
Dalam video yang diunggah di kanal YouTube pribadinya Senin (3/11/2025), Adian mengutip sebuah tulisan viral berjudul “Paradoks Kampus Dunia: Ranking Sarjana Menganggur dan Magang Dibayar” karya Hans Buiten Zork yang beredar luas di berbagai grup WhatsApp.
“Kita hidup di zaman di mana kampus lebih sibuk memoles citra daripada memperbaiki nasib lulusannya,” kutip Adian dari tulisan tersebut.
Ranking Dunia: Ilusi Global, Ironi Lokal
Adian mengkritik universitas besar seperti UI, ITB, dan UGM yang berlomba mengejar peringkat dunia seperti QS Ranking dan Times Higher Education. Menurutnya, kampus-kampus tersebut lebih mementingkan indikator internasionalisasi daripada menyelesaikan masalah riil bangsa.
“Riset diarahkan bukan untuk menjawab masalah negeri seperti stunting, ketahanan energi atau birokrasi, tapi untuk memenuhi indikator internasionalisasi,” ujarnya.
Ia menyayangkan kampus berubah menjadi “pabrik akreditasi” yang mengejar publikasi Scopus, mahasiswa asing, dan dosen tamu dari luar negeri. Sementara itu, mahasiswa dalam negeri masih berjuang mencari tempat magang yang sesuai bidangnya.
Kompetensi Lebih Penting dari SKS
Dalam diskusinya dengan pimpinan sebuah kampus di Sumatera, Adian menekankan pentingnya fokus pada kompetensi, bukan sekadar sistem kredit semester (SKS).
“Bukan ini berapa SKS, ini berapa SKS. Itu penting sebagai bagian administrasi pendidikan, tapi lebih penting itu kompetensi,” tegasnya.
Adian mempertanyakan hasil pendidikan yang telah ditempuh mahasiswa selama bertahun-tahun. “Sudah sekolah kuliah 18 tahun minimal—TK 2 tahun, SD 6 tahun, SMP-SMA 6 tahun, S1 4-5 tahun—lulus tuh bingung mau ngapain,” katanya prihatin.
Kritik terhadap Pendidikan Karakter
Yang lebih mengkhawatirkan bagi Adian adalah minimnya pendidikan karakter di perguruan tinggi. Ia bahkan menyinggung ironi di negara muslim terbesar dunia yang masih memiliki puluhan juta muslim yang tidak bisa membaca Quran.
“Kalau anak muslim lulus kuliah, lulus S1 enggak ngerti adab akhlak pada orang tuanya, enggak punya semangat belajar yang tinggi, enggak punya semangat berbagi ilmu yang tinggi, apa yang sudah dipelajari 18 tahun?” kritiknya.
Adian mengusulkan agar perguruan tinggi merombak kurikulum dengan menjadikan akhlak sebagai prioritas utama. “Kalau hard skill kan bisa dilatih, tapi akhlak itu perlu dibiasakan, dicontohkan, ditanamkan, dimotivasikan,” ujarnya.
Lawyer dan Guru: Ke Mana Mereka Dididik?
Adian juga mempertanyakan kualitas lulusan dari berbagai jurusan. Ia mengaku pernah bertanya kepada seorang rektor fakultas hukum: “Kalau anak saya kuliahkan di Fakultas Hukum di sini, dijamin enggak anak saya menjadi lawyer yang pejuang? Lawyer yang ilmunya hebat, akhlaknya hebat, punya jiwa perjuangan yang hebat?” Sang rektor tidak berani menjamin.
Begitu pula dengan profesi guru. Adian menyayangkan banyak lulusan SMA terbaik tidak berminat menjadi guru. Di Pesantren Attaqwa, ia berupaya mendidik siswa sejak SMP dan SMA untuk bangga menjadi guru.
Reorientasi Pendidikan Tinggi
Adian menutup videonya dengan seruan untuk melakukan reorientasi pendidikan tinggi di Indonesia. Ia mengajak semua pihak untuk memikirkan kembali arah pendidikan nasional.
“Pendidikan tinggi kita ini memang perlu sangat serius direorientasi kembali, kita berpikir kembali mau dibawa ke mana,” pungkasnya.
Ia berharap tulisan viral tersebut dapat menjadi bahan refleksi bagi semua pemangku kepentingan pendidikan, agar anak-anak bangsa tidak menjadi korban dari sistem yang salah arah.






