INAnews.co.id, Jakarta– Ketimpangan ekonomi Indonesia mencapai titik mengkhawatirkan, di mana 1 persen kelompok terkaya menguasai hampir 70-80 persen aset lahan di Indonesia, sementara petani hanya memiliki rata-rata 0,5 hektar.
Rizal Taufiqurrohman, Kepala Center Macroeconomic & Finance INDEF, menjelaskan fenomena “serakah-nomics” ini menciptakan jurang kesejahteraan yang semakin lebar. “Yang kaya makin kaya, yang miskin makin tertekan. Dan inilah kemudian diberikan bantalan-bantalan jangka pendek yang pada akhirnya naik turun, naik turun,” kritiknya.
Data menunjukkan rekening dengan tabungan di bawah Rp 2 juta semakin banyak, bahkan ada fenomena “makan tabungan”. Sebaliknya, jumlah rekening dengan saldo di atas Rp 2 miliar hingga Rp 5 miliar terus bertambah.
Yang lebih memprihatinkan, ketimpangan di perkotaan justru lebih tinggi. “Di perkotaan biaya hidup lebih tinggi, aksesibilitas transportasi mahal, tapi lapangan kerja formal terbatas. Makanya kemiskinan di perkotaan lebih dominan dibanding pedesaan,” jelas Rizal.
Kelas menengah yang seharusnya menjadi penyangga ekonomi justru terus menyusut. “Hampir dalam 5 tahun itu sudah 10 jutaan penurunannya. Ini harus dijaga karena kontribusi mereka terhadap konsumsi hampir 60 persen,” tambahnya.






