INAnews.co.id, Jakarta– Mantan penyelidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Aulia Postiera, menyatakan bencana banjir bandang dan longsor di Sumatra bukan sekadar peristiwa alam biasa. Menurutnya, ada indikasi kuat tindakan koruptif di balik tragedi yang merenggut ratusan nyawa tersebut.
“Kalau pohon tumbang kan tidak rapi terpotong seperti gergaji. Ini yang kita lihat adalah kayu gelondongan yang tersapu banjir,” ujar Aulia dalam kanal Abraham Samad Speak Up, Selasa (9/12/2025), bertepatan dengan Hari Anti Korupsi Sedunia.
Aulia menduga telah terjadi pembalakan liar (illegal logging) dan pertambangan ilegal (illegal mining) secara masif di kawasan hutan Sumatra. Ia mengutip laporan LSM Greenpeace dan Auriga Indonesia yang menyebutkan deforestasi di Sumatra dalam beberapa tahun terakhir hampir seluas Pulau Jawa.
“Rakyat tidak punya excavator atau backhoe. Kalau sudah ada alat berat, pasti ada pembiaran di sana. Ada korporasi yang terlibat, ada penegak hukum yang mendiamkan,” tegasnya.
Eks penyelidik KPK ini menyebut telah terjadi “perselingkuhan” antara penegak hukum dan pengusaha hitam yang mengakibatkan kehancuran ekosistem dan ruang hidup masyarakat. Ia mendesak pemerintah untuk tidak sekadar menyalahkan cuaca, tetapi menindak tegas pelaku yang membiarkan eksploitasi alam tanpa kontrol.
“Ini bukan hanya soal uang negara yang hilang. Dampak terbesar korupsi adalah rusaknya lingkungan dan ruang hidup untuk anak cucu kita,” pungkas Aulia.






