INAnews.co.id, Jakarta– Basarnas mencatat sebanyak 33.173 warga berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat dari bencana banjir dan longsor yang melanda tiga provinsi di Sumatra. Angka ini menggambarkan skala bencana yang begitu besar, sekaligus kerja penyelamatan yang tidak kalah masif.
Kepala Basarnas, Mohammad Syafii, menjelaskan bahwa operasi ini melibatkan lebih dari 5.000 personel potensi SAR di Sumatra Utara, serta ratusan di Provinsi Aceh dan Sumatera Barat. Upaya evakuasi dilakukan melalui berbagai jalur—darat, sungai, hingga udara—termasuk menembus daerah-daerah terpencil seperti Mane, Geumpang, dan Seulimeum yang aksesnya sangat terbatas.
Di Sumatra Utara, jumlah evakuasi menjadi yang terbesar, disusul Sumatera Barat dan Aceh. Hingga hari ketujuh masa tanggap darurat, 447 orang tercatat meninggal dunia dan 399 lainnya masih hilang. Kondisi ini membuat operasi SAR dipastikan terus berlanjut.
“Keberhasilan evakuasi ini tidak lepas dari keterlibatan lebih dari 5.000 personel di Sumut serta ratusan lainnya di Aceh dan Sumbar sejak operasi dimulai pada 25 November,” ujar Syafii dalam rapat bersama Komisi V DPR RI.
Di Aceh, evakuasi mencapai lebih dari seribu warga. Banyak di antaranya dievakuasi dari titik-titik terpencil yang hanya bisa dijangkau dengan kombinasi jalur darat, sungai, dan udara.
Sementara di Sumatra Utara, daerah Tapanuli Tengah dan Tapanuli Selatan menjadi lokasi dengan jumlah warga terdampak terbanyak, termasuk ratusan orang yang harus diangkat menggunakan helikopter.
Sumatera Barat juga menghadapi situasi kritis. Ribuan warga dievakuasi dari lokasi banjir bandang dan longsor, terutama di Kabupaten Agam dan Pasaman Barat yang mendapat kerusakan terparah pada permukiman.
Syafii menyampaikan apresiasi kepada seluruh unsur pemerintah, relawan, dan masyarakat yang bahu-membahu sejakhari pertama bencana. Laporan terbaru dari Pusat Pengendalian Operasi Basarnas menunjukkan 33.620 warga terdampak, dengan korban meninggal mencapai 447 orang dan 399 masihdalam pencarian.
Rinciannya, di Aceh Basarnas mengevakuasi 1.146 warga, dengan 102 meninggal dan 116 masih hilang. Sebanyak 165 personel dikerahkan untuk memperkuat Kantor SAR Banda Aceh.
Di Sumatra Utara, terdapat 3.029 warga terdampak, 217 meninggal, dan 168 hilang, didukung operasi besar yang melibatkan helikopter, kapal, drone, dan perahu karet.
Sementara di Sumatera Barat, 29.445 warga menjadi korban terdampak, dengan 128 meninggal, sebagian besar berasal dari desa-desa terisolasi dan lokasi longsor besar yang sulit dijangkau.
Bencana Datang, Pentingnya Menjaga Lingkungan
Rangkaian tragedi di tiga provinsi ini bukan sekadar peristiwa alam; banyak di antaranya diperparah oleh kerusakan lingkungan, terutama hilangnya tutupan hutan di daerah hulu. Hutan yang seharusnya menjadi penyangga air, pengikat tanah, dan pelindung alami kini semakin berkurang akibat pembukaan lahan yang tidak terkendali.
Ketika hutan gundul, tanah kehilangan kekuatannya untuk menyerap air. Akibatnya, hujan deras berubah menjadi banjir bandang, lereng gunung mudah meluncur menjadi longsor, dan desa-desa di bawahnya menjadi korban.
Bencana di Sumatra seharusnya menjadi pengingat kuat: melindungi hutan berarti melindungi manusia. Pencegahan jauh lebih berharga daripada penanganan setelah semuanya terlambat.
Dengan menjaga hutan tetap lestari, kita bukan hanya menyelamatkan ekosistem, tetapi juga menyelamatkan nyawa dan masa depan banyak komunitas.*






