INAnews.co.id, Jakarta– Meski pemerintah menargetkan campuran bioetanol 15 persen (E15) pada 2025, Indonesia baru mencapai 5 persen (E5), jauh tertinggal dari Filipina yang sudah menerapkan E20. Kenyataan ironis ini terungkap dalam diskusi “BBM Ramah Lingkungan: Menjawab Transisi Energi Sektor Transportasi” yang diselenggarakan INDEF, Jumat (26/12/2025).
Abra Talattov, Kepala Center Food, Energy, and Sustainable Development INDEF, mengungkapkan kesenjangan antara target dan realisasi kebijakan energi bersih Indonesia. “Targetnya tinggi untuk bioetanol 15%, tetapi realisasinya baru 5% sampai sekarang,” ungkap Abra.
Lebih mengkhawatirkan, Indonesia justru mengekspor molase—bahan baku bioetanol—ke Filipina. “Kita E5, Filipina yang impor molase dari Indonesia sudah pakai E20,” kata Kukuh Kumara, Sekretaris Jenderal Gaikindo, menggambarkan ironi kebijakan energi nasional.
Grandprix Thomryes Marth Kadja dari ITB menambahkan, kapasitas produksi etanol Indonesia hanya 300.000 kiloliter per tahun, sementara kebutuhan untuk E10 saja mencapai 1,4 juta kiloliter per tahun—gap yang sangat besar.






