Menu

Mode Gelap
Komentar Pengamat soal Alfamart dan Indomaret Harus Tutup karena Bisa Rugikan Kopdes BRICS atau Trump? Bukti Indonesia Kehilangan Orientasi Politik Luar Negeri Indonesia Ikut Melemah Seiring Penolakan MA Amerika atas Tarif Trump Perkuat Silaturahmi, Kedubes UEA Serahkan Simbol Tradisi dan Persahabatan di Masjid Al-Amin Kemenkeu Diplomasi Tarif Prabowo-Trump Gagal Total dan Konyol Proposal Trump untuk Gaza Dinilai Jebakan Manis

PENDIDIKAN

Cerita Proyek Sarapan Siswa yang “Agak Sensitif”

badge-check


					Foto; dok. ist Perbesar

Foto; dok. ist

INAnews.co.id, Jakarta– Anies Baswedan menceritakan pengalamannya menerapkan program sarapan siswa di Jakarta yang disebutnya “agak sensitif hari-hari ini”, menyindir program makan bergizi gratis pemerintah saat ini.

“Tapi kalau saya ceritakan yang satu lagi ini agak sensitif hari-hari ini. Tapi saya ceritain aja dah kan ini kan cerita kemarin gitu. Pemberian sarapan pagi untuk siswa,” ujar Anies dalam Catalyst Impact Forum 2025 di Bandung, 3 Desember 2025.

Dalam program tersebut, dana tidak diberikan ke kontraktor katering, melainkan diserahkan langsung ke sekolah dan asosiasi orang tua. Ibu-ibu paling terampil yang memasak dan mengantar ke sekolah.

“Dana itu diserahkan kepada sekolah kepada orang tua. Jadi asosiasi orang tua memberikan menyiapkan makan untuk anak-anaknya. Yang masak ibu-ibu yang paling terampil masak di antara kita,” jelasnya.

Anies menerapkan prinsip bahwa jarak antara dapur dan meja makan harus sedekat mungkin untuk menjaga kualitas makanan. “Semakin jauh jarak antara dapur dan meja makan, semakin banyak masalah yang muncul,” katanya.

Yang mengejutkan, terjadi kompetisi positif antar ibu-ibu yang bergiliran memasak. Anak-anak mulai membandingkan masakan mereka.

“Yang terjadi anak-anak itu bilang, ‘Ini kalau yang masak Bu Eri lebih enak daripada Bu Anis.’ Bu Anis panas tuh. Yang giliran besok dia tambahin lagi. Kualitas makin hari makin meningkat,” cerita Anies.

Ibu-ibu bahkan menambah menu dari spesifikasi pemerintah. Budget per sarapan Rp10.000 bisa menjadi senilai Rp12.000-Rp15.000 karena ibu-ibu menambah dari kantong sendiri.

“Ibu-ibu itu menunya ditambahi dari spesifikasi kita. Inovasi di sekolahan muncul. Tambah ini, tambah itu, tambah macam-macam,” ungkapnya.

Keunggulan lain, ibu-ibu tidak akan korupsi uang sarapan untuk anak sendiri. “Ibu-ibu ini enggak akan ngembat uang sarapan buat anaknya. Enggak akan diembat sama ibu-ibu itu. Kalau dikasih ke vendor belum tentu,” sindir Anies.

Ia menegaskan, ini contoh nyata pendekatan movement yang membuat semua pihak merasa memiliki masalah dan terpanggil menyelesaikannya dengan hasil lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

125 Sejarawan Dilibatkan dalam Penulisan Ulang Sejarah

20 Februari 2026 - 15:58 WIB

Dubes Venezuela Bahas Isu Global di Prodi Hubungan Internasional Univesitas Moestopo

10 Februari 2026 - 19:35 WIB

Dubes Venezuela Bahas Isu Global di Prodi Hubungan Internasional Univesitas Moestopo

ASPIKOM Korwil Jabodetabek Matangkan Strategi Adaptasi Pendidikan Komunikasi dalam Rapat Kerja Wilayah

7 Februari 2026 - 11:45 WIB

ASPIKOM Korwil Jabodetabek Matangkan Strategi Adaptasi Pendidikan Komunikasi dalam Rapat Kerja Wilayah
Populer PENDIDIKAN