Menu

Mode Gelap
Destinasi Wisata Alam Menarik di Kabupaten Bone Bolango Ketahuan ‘Kumpul Kebo’ Siap-siap Dipidana di KUHP Baru Amien Rais Sebut KUHP Baru Gerbang Otoritarianisme Mendesak Indonesia Kritik Keras Kebijakan AS soal Venezuela AS Terapkan Imperialisme Baru dan Ancam Stabilitas Global Tangkap Maduro FPCI Sebut Tindakan AS di Venezuela Langgar Hukum Internasional

PENDIDIKAN

Cerita Proyek Sarapan Siswa yang “Agak Sensitif”

badge-check


					Foto; dok. ist Perbesar

Foto; dok. ist

INAnews.co.id, Jakarta– Anies Baswedan menceritakan pengalamannya menerapkan program sarapan siswa di Jakarta yang disebutnya “agak sensitif hari-hari ini”, menyindir program makan bergizi gratis pemerintah saat ini.

“Tapi kalau saya ceritakan yang satu lagi ini agak sensitif hari-hari ini. Tapi saya ceritain aja dah kan ini kan cerita kemarin gitu. Pemberian sarapan pagi untuk siswa,” ujar Anies dalam Catalyst Impact Forum 2025 di Bandung, 3 Desember 2025.

Dalam program tersebut, dana tidak diberikan ke kontraktor katering, melainkan diserahkan langsung ke sekolah dan asosiasi orang tua. Ibu-ibu paling terampil yang memasak dan mengantar ke sekolah.

“Dana itu diserahkan kepada sekolah kepada orang tua. Jadi asosiasi orang tua memberikan menyiapkan makan untuk anak-anaknya. Yang masak ibu-ibu yang paling terampil masak di antara kita,” jelasnya.

Anies menerapkan prinsip bahwa jarak antara dapur dan meja makan harus sedekat mungkin untuk menjaga kualitas makanan. “Semakin jauh jarak antara dapur dan meja makan, semakin banyak masalah yang muncul,” katanya.

Yang mengejutkan, terjadi kompetisi positif antar ibu-ibu yang bergiliran memasak. Anak-anak mulai membandingkan masakan mereka.

“Yang terjadi anak-anak itu bilang, ‘Ini kalau yang masak Bu Eri lebih enak daripada Bu Anis.’ Bu Anis panas tuh. Yang giliran besok dia tambahin lagi. Kualitas makin hari makin meningkat,” cerita Anies.

Ibu-ibu bahkan menambah menu dari spesifikasi pemerintah. Budget per sarapan Rp10.000 bisa menjadi senilai Rp12.000-Rp15.000 karena ibu-ibu menambah dari kantong sendiri.

“Ibu-ibu itu menunya ditambahi dari spesifikasi kita. Inovasi di sekolahan muncul. Tambah ini, tambah itu, tambah macam-macam,” ungkapnya.

Keunggulan lain, ibu-ibu tidak akan korupsi uang sarapan untuk anak sendiri. “Ibu-ibu ini enggak akan ngembat uang sarapan buat anaknya. Enggak akan diembat sama ibu-ibu itu. Kalau dikasih ke vendor belum tentu,” sindir Anies.

Ia menegaskan, ini contoh nyata pendekatan movement yang membuat semua pihak merasa memiliki masalah dan terpanggil menyelesaikannya dengan hasil lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

RPL Talk: Pengalaman Industri Hospitality & Pariwisata Jadi “Golden Ticket” Kuliah Lagi di Institut STIAMI

7 Januari 2026 - 08:16 WIB

RPL Talk: Pengalaman Industri Hospitality & Pariwisata Jadi “Golden Ticket” Kuliah Lagi di Institut STIAMI

NU tak Bisa Dikooptasi: Kepala Dipegang, Ekor Belum Tentu Ikut

5 Januari 2026 - 21:32 WIB

Komentar Pengamat soal Kontroversi Pemberian MBG di Tengah Masa Libur Sekolah

26 Desember 2025 - 08:07 WIB

Populer NASIONAL