INAnews.co.id, Jakarta– Indonesia menghadapi gap produksi bioetanol yang sangat besar untuk mencapai target E10. Kapasitas produksi saat ini hanya 300.000 kiloliter per tahun, sementara kebutuhan mencapai 1,4 juta kiloliter—kekurangan lebih dari 1 juta kiloliter.
Grandprix Thomryes dari ITB mengungkap data mengkhawatirkan ini dalam diskusi INDEF, Jumat (26/12/2025). “Untuk E10 kebutuhan etanol sekitar 1,4 juta kiloliter per tahun. Kapasitas produksi kita saat ini 300.000 kiloliter per tahun,” jelasnya.
Lebih parah lagi, dari kapasitas 300.000 kiloliter tersebut, produksi aktual untuk fuel grade (etanol murni 99,5% untuk bahan bakar) hanya sekitar 100.000 kiloliter per tahun. “Ada mismatch yang sangat besar,” tegasnya.
Abra Talattov dari INDEF memperingatkan risiko ketergantungan impor baru jika gap ini tidak ditangani serius. “Jangan sampai kita mendorong peningkatan bioetanol tetapi tidak siap dari sisi bahan baku, dan yang dikhawatirkan malah nanti ada pikiran bahwa kita membutuhkan impor,” ujarnya.
Saat ini Indonesia hanya memiliki satu produsen molase untuk bioetanol. “Produsen molasenya baru satu. Artinya ketika pemerintah menargetkan dari E5 ke E10 bahkan E15, pastinya butuh bahan baku yang lebih besar lagi,” tambah Abra.
Grandprix menekankan, “Diversifikasi energi bersih harus memperkuat ketahanan nasional, bukan meningkatkan ketergantungan terhadap impor.”






