Menu

Mode Gelap
Model Overlapping Generation Ungkap Dampak MBG Muhammadiyah Tegaskan ‘Aliansi Muda Muhammadiyah’ Bukan Sikap Resmi Organisasi Dibawah Kepemimpinan Listyo Sigit Polri Hadir Sebagai Aktor Pembangunan Nasional Destinasi Wisata Alam Menarik di Kabupaten Bone Bolango Ketahuan ‘Kumpul Kebo’ Siap-siap Dipidana di KUHP Baru Amien Rais Sebut KUHP Baru Gerbang Otoritarianisme

EKONOMI

INDEF Yakin Indonesia Keluar dari “Jebakan Pertumbuhan 5 Persen” di 2026

badge-check


					Foto: dok. Antara Perbesar

Foto: dok. Antara

INAnews.co.id, Jakarta– Ekonomi Indonesia yang tumbuh stabil di angka 5 persen selama tiga tahun terakhir ternyata menyimpan sejumlah kekhawatiran struktural. Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menilai pertumbuhan tersebut belum cukup inklusif dan berkelanjutan, namun optimistis Indonesia dapat melampaui stagnasi ini pada 2026 dengan strategi kebijakan yang tepat.

Pertumbuhan 5 Persen: Stabil tapi Tidak Sehat

Direktur Pengembangan Big Data INDEF, Eko Listiyanto, mengungkapkan bahwa pertumbuhan ekonomi rata-rata 5,04 persen per tahun dalam tiga tahun terakhir tampak stabil di atas kertas. Namun realitasnya, angka ini belum diterjemahkan menjadi peningkatan kesejahteraan nyata bagi masyarakat.

“Pertumbuhan 5 persen tidak berarti pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan jika tidak diiringi dengan peningkatan daya beli masyarakat, penciptaan lapangan kerja berkualitas, serta investasi produktif,” tegas Eko kepada media belum lama ini. Menurutnya, stimulus yang tidak tepat sasaran cenderung bersifat sementara dan tidak berdampak jangka panjang.

Tiga Sinyal Bahaya di Balik Stabilitas

INDEF mencatat beberapa indikator yang menunjukkan kerentanan ekonomi Indonesia:

Pertama, konsumsi rumah tangga—meski menjadi penggerak utama ekonomi—hanya tumbuh 4,89-4,94 persen, lebih rendah dari pertumbuhan PDB secara keseluruhan. Ini menunjukkan daya beli masyarakat bergerak lamban.

Kedua, deflasi yang terjadi di beberapa bulan tahun 2024 (Mei-September) dan berlanjut hingga awal 2025 justru menimbulkan efek kontraproduktif. Konsumen dan pelaku usaha menunda pembelian karena mengharapkan harga turun lebih lanjut, yang akhirnya memperlambat permintaan dan mendorong ekonomi ke spiral negatif.

Ketiga, investasi asing langsung (FDI) anjlok 8,87 persen pada triwulan III 2025. Penurunan ini mencerminkan keraguan investor global terhadap prospek ekonomi Indonesia akibat ketidakpastian regulasi, perpajakan, dan hambatan infrastruktur.

Apresiasi dan Tantangan Era Prabowo-Gibran

Meski mengkritik, Eko memberikan apresiasi terhadap pencapaian tahun pertama pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, khususnya dalam pengendalian inflasi yang berhasil dijaga di 2,86 persen, sesuai target. Inflasi yang terkendali memberikan fondasi penting bagi stabilitas ekonomi jangka panjang.

Namun, tantangan struktural masih menghadang. Daya beli masyarakat tetap menjadi masalah krusial, padahal konsumsi domestik menyumbang 50-60 persen dari total pertumbuhan ekonomi.

“Pemerintah harus memprioritaskan peningkatan penghasilan tidak kena pajak, stabilitas harga pangan, dan program yang langsung berdampak pada daya beli,” ujar Eko.

Selain itu, sektor pertanian dan UMKM yang menjadi tulang punggung mayoritas masyarakat perlu diperkuat. Program koperasi desa harus dikelola secara profesional agar mampu mendorong pertumbuhan inklusif dan penciptaan lapangan kerja.

Kredit Perbankan Harus Tumbuh Lebih Cepat

Eko juga mengingatkan bahwa pertumbuhan kredit perbankan yang hanya sekitar 8 persen masih jauh dari kebutuhan untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi 5,4 persen di 2026. “Diperlukan percepatan agar kredit bisa mencapai 12-15 persen,” tegasnya.

Tujuh Prioritas Kebijakan Menuju 2026

Untuk mencapai target pertumbuhan 5,4 persen dan keluar dari jebakan stagnasi, INDEF merekomendasikan tujuh prioritas kebijakan:

  1. Peningkatan daya beli riil melalui kebijakan pajak dan stabilitas harga pangan
  2. Akselerasi kredit perbankan hingga 12-15 persen untuk memicu konsumsi dan investasi
  3. Penciptaan lapangan kerja yang berkualitas dan produktif
  4. Belanja pemerintah yang produktif dan tepat sasaran
  5. Hilirisasi mineral yang berkelanjutan untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi
  6. Penyederhanaan regulasi guna menarik investasi dan mengurangi hambatan birokrasi
  7. Optimalisasi program UMKM dan pertanian sebagai basis ekonomi kerakyatan

Peremajaan Fundamental Arah Pembangunan

Eko Listiyanto menegaskan bahwa stagnansi pertumbuhan ekonomi Indonesia di kisaran 5 persen selama lebih dari satu dekade menandakan perlunya peremajaan fundamental dalam arah pembangunan nasional.

“Tantangan terbesar bukan hanya angka pertumbuhan, melainkan memastikan bahwa pertumbuhan tersebut menghasilkan keadilan sosial-ekonomi yang merata,” tegasnya.

Dengan strategi yang tepat dan eksekusi konsisten, INDEF optimistis Indonesia dapat keluar dari “jebakan pertumbuhan 5 persen” menuju pertumbuhan yang lebih inklusif dan dirasakan manfaatnya oleh seluruh rakyat Indonesia, dari Sabang sampai Merauke.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Model Overlapping Generation Ungkap Dampak MBG

12 Januari 2026 - 13:38 WIB

Ketahuan ‘Kumpul Kebo’ Siap-siap Dipidana di KUHP Baru

9 Januari 2026 - 11:15 WIB

Amien Rais Sebut KUHP Baru Gerbang Otoritarianisme

9 Januari 2026 - 10:11 WIB

Populer POLITIK