INAnews.co.id, Jakarta– Kebijakan melanjutkan program Makanan Bergizi (MBG) selama masa libur sekolah akhir tahun menuai beragam tanggapan. Pengamat politik Adi Prayitno menyoroti perdebatan ini dalam analisisnya di kanal YouTube pribadi, yang diunggah pada Rabu (24/12/2025).
Dalam videonya, Prayitno memaparkan fakta dan argumentasi yang berkembang di ruang publik. Di satu sisi, Badan yang bertanggung jawab atas program MBG (disebut BGN) dan sebagian anggota dewan, seperti Hatiifah Sefudin dari Fraksi Golkar, menegaskan pentingnya keberlanjutan program.
“Argumentasinya, pemenuhan gizi tidak kenal jeda dan libur sekolah. Justru di masa libur, ada kekhawatiran anak-anak dari keluarga rentan mengalami kekurangan gizi,” ujar Prayitno, menyitir pandangan pihak yang pro.
BGN sendiri telah menyiapkan sejumlah opsi teknis penyaluran selama liburan, yakni pengambilan di sekolah jika memungkinkan, pengambilan di dapur MBG atau SPBG, atau yang paling disarankan: delivery langsung ke rumah siswa. Menu yang disediakan juga diklaim telah disesuaikan, termasuk opsi menu kering seperti telur, susu, buah, dan roti yang dapat dibawa pulang.
Namun, di sisi lain, muncul kritik dan kekhawatiran. Anggota DPR RI Charles Honoris dari Fraksi PDIP, misalnya, mengusulkan agar program MBG diistirahatkan selama libur sekolah. Dana yang dialokasikan dinilainya bisa dialihkan untuk hal yang lebih mendesak, seperti membantu korban longsor dan banjir di Sumatera.
“Ada kekhawatiran di publik bahwa program ini dipaksakan berjalan hanya untuk menyerap anggaran akhir tahun 2025,” kata Prayitno menguraikan kritik tersebut. Kekhawatiran lain menyangkut potensi merepotkan siswa yang harus datang mengambil makanan saat liburan, serta kualitas menu yang disajikan agar tetap memenuhi standar gizi nasional.
Menanggapi perdebatan ini, Adi Prayitno mengambil posisi tengah. Ia menilai program MBG pada dasarnya baik, asalkan implementasinya tidak menimbulkan masalah.
“BGN harus memastikan bahwa program ini tidak merepotkan siswa yang sedang libur. Opsi delivery ke rumah adalah yang paling rasional dan masuk akal untuk meredam kontroversi,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya pengawasan ketat terhadap kualitas menu, baik yang siap santap maupun menu kering, agar benar-benar memenuhi standar gizi.
Prayitno menyimpulkan, kontroversi seputar MBG di masa libur sekolah bisa diselesaikan jika pemerintah, melalui BGN, mampu menjamin efisiensi penyaluran dan kualitas gizi yang diberikan.
“Karena MBG ini adalah program strategis pemerintah dan prioritas presiden, maka institusi pelaksananya harus memastikan di level teknis tidak ada masalah. Jangan sampai siswa yang sedang libur justru repot hanya untuk mengambil makanan bergizi,” pungkasnya.






