INAnews.co.id, Jakarta– Korupsi tidak hanya tentang hilangnya uang negara tetapi juga merusak lingkungan dan mengancam nyawa rakyat. Demikian disampaikan mantan penyelidik KPK, Aulia Postiera, dalam momentum Hari Anti Korupsi Sedunia.
“Dampak terbesar korupsi adalah rusaknya ruang hidup masyarakat. Banjir bandang di Sumatra adalah bukti nyata bagaimana korupsi bisa membunuh,” kata Aulia kepada Abraham Samad, dalam kanal Abraham Samad Speak Up, Selasa (9/12/2025)
Aulia mencontohkan kasus Kepulauan Nauru di Pasifik yang dulunya penghasil fosfat terbesar dunia. Setelah eksploitasi besar-besaran sekitar 100 tahun lalu, kini pulau tersebut dalam kondisi kritis dan tidak bisa ditanami.
“Kita tidak ingin Indonesia seperti itu. Industri ekstraktif yang masif harus dihentikan dan dievaluasi. Yang kita pikirkan bukan hanya kita hari ini, tapi anak cucu kita 50 tahun mendatang,” jelasnya.
Menurutnya, kebijakan yang menghilangkan AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) sebagai prasyarat pemberian izin usaha sangat berbahaya.
“Dulu AMDAL wajib ada sebelum izin diberikan. Sekarang boleh jalan dulu, AMDAL menyusul. Dengan kedok investasi, kita sedang menghancurkan ruang hidup masyarakat,” kritiknya.
Aulia menegaskan bahwa pemberantasan korupsi harus dilakukan dengan tiga pendekatan holistik: penindakan (efek jera), pencegahan (perbaikan sistem), dan pendidikan (membangun kesadaran anti-korupsi sejak dini).
“Ketiga pendekatan ini harus berjalan terintegrasi. Tidak boleh jalan sendiri-sendiri,” pungkasnya.






