INAnews.co.id, Jakarta– Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) menuduh motivasi utama agresi AS di Venezuela adalah untuk menguasai minyak negara tersebut demi keuntungan perusahaan minyak Amerika.
Ketua FPCI Dino Patti Djalal dalam pernyataan video di akun X-nya Rabu (7/1/2026) menyatakan, di tengah kompetisi sengit terhadap sumber daya alam, penggunaan kekuatan untuk memaksakan perubahan rezim oleh AS memberikan preseden berbahaya bagi negara lain.
“Ini adalah resep untuk tata kelola dunia yang lebih kacau. AS tidak bisa mengklaim hanya dirinya yang memiliki hak untuk menggulingkan pemerintahan lain dan menculik pemimpin mereka,” tegas Dino.
Untuk pertama kalinya, FPCI menggunakan istilah “imperialisme” untuk menggambarkan kebijakan luar negeri AS. Dino menjelaskan, kebijakan luar negeri AS kini ditandai dengan ekspansi teritorial, perampasan agresif sumber daya negara lain, dominasi regional, kontrol dan subjugasi negara lain, serta sikap arogansi bercampur kompleks superioritas.
“Mereka sangat melindungi kedaulatan AS, tetapi mudah mengabaikan kedaulatan negara lain,” ujar Dino.
FPCI melihat ancaman AS tidak hanya tertuju pada Venezuela, tetapi juga Kolombia, Kuba, Meksiko, bahkan Denmark. Daftar negara yang berpotensi menghadapi intervensi AS dapat berkembang mencakup Iran, Nigeria, Brasil, Afrika Selatan, bahkan Kanada.
Dino menyebut ini bukanlah Amerika yang biasa dikenal dunia, di mana banyak negara kini membutuhkan keamanan dari AS, bukan bersama AS.






