Menu

Mode Gelap
Harga Beras Diprediksi Terus Naik Hingga Juni 2026, Program MBG Jadi Pemicu Morowali Jadi Simbol Penyerahan Lima Kedaulatan Sekaligus ke China Pidato Prabowo di Davos: Sita 5 Juta Hektare Lahan Ilegal Ketergantungan Impor Indonesia pada China Capai 30 Persen, Diversifikasi Mendesak Putusan Kasus Pagar Laut Dinilai Tebang Pilih, PIK 2 tak Tersentuh Bank Banten (BEKS) Gelar RUPSLB Bahas Perubahan Pengurus

DAERAH

Butuh Alat Berat Lebih Banyak untuk Bersihkan Lumpur di Aceh Tamiang

badge-check


					Foto: dok. ist Perbesar

Foto: dok. ist

INAnews.co.id, Aceh Tamiang– Bencana banjir bandang sudah hampir dua bulan. Tapi timbunan lumpur masih berserakan di sebagian lokasi Aceh Tamiang. Pengerahan alat berat dan sejumlah pekerja yang dimobilisasi BUMN Karya dan PTPN dibantu aparat TNI, belum sepenuhnya mampu membersihkan tumpukan lumpur yang menimbun rumah-rumah warga serta bangunan serta fasilitas umum lainnya.

Di Kuala Simpang, Pusat Kota Aceh Tamiang misalnya, sejumlah pekerja dadakan yang dikerahkan BUMN Karya terlihat saling bahu membahu dengan aparat TNI. Mereka membersihkan tumpukan lumpur yang menimbun rumah warga. Berbagai alat berat dan truk dikerahkan kesana untuk mengeruk dan mengangkut sisa lumpur banjir bandang.

“Kalau hanya mengandalkan tenaga yang dimobilisasi BUMN Karya tidak cukup. Karena itu, pimpinan Danantara Bapak Dony Oskaria bergerak cepat mengerahkan bantuan tenaga tambahan dari para pekerja PTPN,” kata Arifin, salah satu tokoh masyarakat yang terlibat dalam pengerahan dan distribusi bantuan untuk penyintas bencana di Aceh Tamiang.

Sementara itu di Desa Lubuk Sidup,  Kecamatan Sekerak, lokasi bencana yang agak jauh dari pusat Ibu Kota Kabupaten Aceh Tamiang, pengerahan alat berat juga dilakukan. Beberapa alat berat digunakan untuk menyingkirkan tumpukan gelondongan kayu yang terbawa longsor dari atas bukit.

Tumpukan kayu gelondongan ukuran besar yang menumpuk di sekitar Masjid Nurussalam, mulai dibereskan. Di pelataran mesjid sudah berdiri tenda besar Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Sebelumnya hanya tenda milik organisasi relawan Wahana Muda Indonesia (WMI) karena saat pertama datang ke Lubuk Sidup, para relawan bersama warga setempat membersihkan dulu timbunan lumpur di dalam mesjid.

Masjid Nurusslam merupakan satu-satunya bangunan yang tersisa pada peristiwa bencana banjir bandang di Lubuk Sidup. Masjid ini sebelumnya dijadikan tempat perlindungan sementara bagi warga yang kehilangan rumah. Kini keberadaan masjid menjadi simbol harapan dan kebersamaan warga Lubuk Sidup pasca banjir bandang.

Menurut Ketua Umum WMI, Handriansyah, di Desa Lubuk Sidup, WMI telah melakukan pogram pendampingan terhadap penyintas bencana. Disana, WMI mendirikan tenda sementara bagi para keluarga korban, poko kesehatan, MCK, pembuatan pipa air serta pemberian family kit, alat-alat masak, kompor gas dan peralatan bangunan seperti gergaji, paku dll.

“Selain di Aceh Tamiang, WMI juga mendirikan Posko di Aceh Timur, Bireun, Pidie Jaya. Nanti kita juga akan memperluas program bantuan hingga ke Bener Meriah dan Takengon,” ujar Handriansyah.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Morowali Jadi Simbol Penyerahan Lima Kedaulatan Sekaligus ke China

23 Januari 2026 - 16:09 WIB

Bank Banten (BEKS) Gelar RUPSLB Bahas Perubahan Pengurus

23 Januari 2026 - 15:03 WIB

Menjaga Hutan dari Penggundulan untuk Mencegah Banjir Bandang

22 Januari 2026 - 20:27 WIB

Populer SOSIAL