Menu

Mode Gelap
Genangan Air Pascabanjir terhadap Kesehatan Warga dan Tips Sehat Usai Banjir Tips Jaga Kesehatan di Musim Hujan di Kota Semarang Menjaga Kesehatan di Musim Hujan: Tips Sehat di Tengah Ancaman Banjir Oknum Anggota TNI AL Terlibat Perkelahian di Talaud, Lanal Minta Maaf, Proses Hukum Berlanjut Ekspor Indonesia Masih Terjebak di Komoditas Mentah, Daya Saing Terancam Kedaulatan Rakyat Harus Dikembalikan

GAYA HIDUP

Genangan Air Pascabanjir terhadap Kesehatan Warga dan Tips Sehat Usai Banjir

badge-check


					Foto: dok. ist Perbesar

Foto: dok. ist

INAnews.co.id, Jakarta– Banjir masih menjadi persoalan klasik yang kerap melanda Jakarta, terutama saat curah hujan tinggi disertai pasang air laut (rob). Setelah banjir surut, ancaman belum sepenuhnya berakhir. Genangan air yang tersisa di lingkungan permukiman, jalanan, hingga fasilitas umum justru menyimpan berbagai risiko kesehatan bagi warga. Air yang tampak tenang dan menggenang sering kali menjadi media penyebaran penyakit, bakteri, serta sarang vektor penyakit yang berbahaya jika tidak segera ditangani dengan tepat.

Genangan air pascabanjir umumnya bercampur dengan berbagai limbah, seperti sampah rumah tangga, kotoran manusia dan hewan, hingga zat kimia dari saluran drainase yang meluap. Kondisi ini menjadikan air banjir sangat tidak higienis dan berpotensi menjadi sumber penyakit menular. Warga Jakarta yang beraktivitas di sekitar genangan tanpa perlindungan memadai berisiko mengalami gangguan kesehatan, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Salah satu penyakit yang paling sering muncul akibat kontak dengan genangan air banjir adalah leptospirosis. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Leptospira yang berasal dari urine tikus dan dapat masuk ke tubuh manusia melalui luka terbuka atau selaput lendir. Di wilayah padat penduduk seperti Jakarta, populasi tikus relatif tinggi sehingga risiko penularan leptospirosis meningkat pascabanjir. Gejala awalnya menyerupai flu, seperti demam, nyeri otot, dan sakit kepala, namun dapat berkembang menjadi komplikasi serius jika tidak segera ditangani.

Selain leptospirosis, genangan air juga menjadi tempat berkembang biak nyamuk, khususnya nyamuk Aedes aegypti dan Culex. Kondisi ini meningkatkan risiko penyakit demam berdarah dengue (DBD), chikungunya, dan filariasis. Setelah banjir, banyak wadah tak terpakai, seperti ember, kaleng, dan pot bunga, terisi air dan menjadi sarang ideal bagi jentik nyamuk. Jika tidak dilakukan pemberantasan sarang nyamuk secara menyeluruh, lonjakan kasus penyakit berbasis vektor dapat terjadi beberapa minggu setelah banjir.

Penyakit kulit juga menjadi keluhan umum warga yang terpapar genangan air banjir. Air yang kotor dapat menyebabkan infeksi jamur, gatal-gatal, dermatitis, hingga bisul. Anak-anak yang sering bermain di sekitar genangan air sangat rentan mengalami gangguan kulit karena daya tahan tubuh yang belum optimal. Selain itu, kontak berkepanjangan dengan air tercemar dapat memperparah luka kecil dan menyebabkan infeksi sekunder.

Masalah kesehatan lainnya yang tak kalah penting adalah gangguan pencernaan. Banjir sering kali merusak sumber air bersih dan mencemari makanan. Air minum yang terkontaminasi dapat memicu diare, tifus, kolera, hingga hepatitis A. Di beberapa wilayah Jakarta, warga terpaksa menggunakan air yang kualitasnya menurun akibat tercemar banjir, sehingga risiko penyakit saluran cerna semakin tinggi, terutama bagi balita dan lansia.

Melihat besarnya ancaman kesehatan pascabanjir, warga Jakarta perlu menerapkan langkah-langkah pencegahan agar tetap sehat. Salah satu langkah utama adalah menghindari kontak langsung dengan genangan air jika tidak diperlukan. Apabila harus beraktivitas di area yang masih tergenang, gunakan alat pelindung diri seperti sepatu bot, sarung tangan, dan pakaian tertutup untuk meminimalkan kontak kulit dengan air kotor.

Kebersihan lingkungan menjadi kunci penting usai banjir. Warga dianjurkan segera membersihkan sisa lumpur dan sampah di sekitar rumah serta memastikan saluran air tidak tersumbat. Menguras dan menutup tempat penampungan air, serta menyingkirkan barang-barang bekas yang dapat menampung air, sangat efektif untuk mencegah berkembangnya nyamuk. Upaya ini sebaiknya dilakukan secara gotong royong agar hasilnya lebih optimal.

Menjaga kebersihan diri juga tidak kalah penting. Setelah beraktivitas di luar rumah atau kontak dengan air banjir, segera mandi menggunakan sabun dan air bersih. Periksa tubuh dari luka kecil dan segera bersihkan dengan antiseptik. Jika muncul gejala seperti demam, mual, diare, atau nyeri otot setelah banjir, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan dini.

Asupan makanan dan minuman juga perlu diperhatikan. Pastikan air minum yang dikonsumsi telah dimasak hingga mendidih dan makanan diolah secara higienis. Hindari mengonsumsi makanan yang terendam air banjir karena berisiko tinggi terkontaminasi bakteri dan zat berbahaya. Konsumsi makanan bergizi seimbang dan cukup istirahat untuk membantu meningkatkan daya tahan tubuh pascabanjir.

Banjir memang sulit dihindari sepenuhnya, namun dampak kesehatannya dapat diminimalkan dengan kewaspadaan dan perilaku hidup bersih serta sehat. Dengan kesadaran bersama, warga Jakarta diharapkan mampu melindungi diri dan keluarga dari berbagai penyakit yang mengintai akibat genangan air habis banjir, sehingga proses pemulihan pascabanjir dapat berjalan lebih aman dan sehat. Seputar lingkungan bisa akses: DLH Jakarta Pusat.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Tips Jaga Kesehatan di Musim Hujan di Kota Semarang

24 Januari 2026 - 21:00 WIB

Menjaga Kesehatan di Musim Hujan: Tips Sehat di Tengah Ancaman Banjir

24 Januari 2026 - 20:56 WIB

Kerawanan Pangan Papua Tetap Tinggi, Kemiskinan Jadi Faktor Utama

23 Januari 2026 - 18:25 WIB

Populer DAERAH