INAnews.co.id, Jakarta– Ekonom INDEF Rusli Abdullah mengungkapkan wilayah Indonesia Timur khususnya Papua masih menghadapi tingkat kerawanan pangan yang tinggi meski secara nasional indeks ketahanan pangan meningkat dari 2018 hingga 2023, dengan kemiskinan menjadi faktor utama yang berkorelasi kuat.
Dalam Diskusi Publik Ekonomi 2026 yang disiarkan kanal resmi INDEF Rabu (21/1/2026), Rusli memaparkan data Badan Pangan Nasional dan BPS yang menunjukkan korelasi kuat antara tingkat kemiskinan dengan kerawanan pangan di tingkat kabupaten.
“Semakin tinggi sebuah daerah itu miskin, banyak tingkat kemiskinan yang tinggi, maka tingkat kerawanan pangannya juga tinggi. Ini harus diperhatikan karena terkait dengan masalah income,” ungkap Rusli.
Berdasarkan peta kerawanan pangan yang ditampilkan, meski terjadi peningkatan ketahanan pangan secara rata-rata nasional dari 2018 ke 2023, ketimpangan masih tinggi terutama di daerah timur Indonesia. Papua dan wilayah sekitarnya tetap berada pada kategori kerawanan pangan tinggi.
Rusli menjelaskan kompleksitas masalah kerawanan pangan di Papua tidak hanya soal kemiskinan, tetapi juga faktor historis dan kemungkinan bias pengukuran yang digunakan pemerintah.
“Secara historis masyarakat Papua tidak mengenal beras, mereka secara nature kenalnya adalah sagu yang menjadi makanan pokok mereka, protein dari daging buruan hutan. Ini mungkin ada bias pengukuran yang dipakai pemerintah untuk pengukuran di Papua dan di Jawa,” jelasnya.
Ia menekankan daerah timur terutama Papua perlu mendapat perhatian khusus dari pemerintah dalam mengatasi kerawanan pangan, dengan mempertimbangkan konteks lokal dan keberagaman pangan yang sesuai budaya setempat.
Rusli juga mengingatkan bahwa kerawanan pangan akan menciptakan lingkaran setan (vicious cycle) kemiskinan. Orang miskin tidak mampu membeli pangan bergizi, menyebabkan tubuh lemah dan stunting, yang berdampak pada produktivitas rendah di masa dewasa, dan akhirnya kembali jatuh ke jurang kemiskinan.
“Orang miskin tidak bisa afford pangan yang cukup bergizi, pada akhirnya tubuhnya lemah, ada stunting, sakit-sakitan. Di masa dewasa tidak produktif, produktivitasnya tidak optimal, yang akhirnya memiliki probabilitas tinggi untuk kembali ke jurang kemiskinan karena tidak bisa menggenerate income yang layak,” paparnya.
Untuk memutus lingkaran setan ini, Rusli merekomendasikan intervensi pemerintah dari dua sisi. Dari sisi produksi, pemerintah harus menjaga produktivitas pangan, mendorong diversifikasi, dan menyediakan pangan sehat. Dari sisi konsumsi, pemerintah perlu menaikkan pendapatan masyarakat miskin, memberikan edukasi pangan sehat, dan mendorong keberagaman konsumsi pangan.






