INAnews.co.id, Jakarta– Ekonom INDEF Ariyo Irhamna mengungkapkan ketergantungan impor Indonesia terhadap China telah mencapai lebih dari 30 persen dari total impor, menciptakan kerentanan sistemik terhadap gangguan rantai pasok, kebijakan perdagangan sepihak, dan eskalasi geopolitik.
Dalam diskusi publik bertema Ekonomi 2026 yang diselenggarakan INDEF Rabu (21/1/2026), Ariyo menjelaskan China menempati posisi sangat ekstrem sebagai pemasok produk impor Indonesia dengan pertumbuhan ekspor global yang relatif moderat, namun ekspor China ke Indonesia sangat progresif.
“Ketergantungan ini bukan hanya soal harga, tapi kerentanan terhadap gangguan rantai pasok, kebijakan perdagangan yang sangat rentan disetir secara sepihak karena dominannya China dalam perdagangan internasional dengan Indonesia, serta eskalasi geopolitik,” tegas Ariyo .
Berdasarkan data yang dipaparkan, China merupakan satu-satunya negara yang pertumbuhan pasokannya ke Indonesia melebihi pertumbuhan ekspor globalnya. Hal ini menegaskan ketergantungan yang semakin dalam sekaligus agresivitas China dalam menguasai pasar Indonesia.
Meski demikian, Ariyo mencatat bahwa mitra alternatif sebenarnya ada namun kurang dimanfaatkan. Sejumlah negara seperti India, Vietnam, Malaysia, UAE, Brazil, dan Saudi Arabia menunjukkan pertumbuhan ekspor global lebih cepat dibanding peningkatan impor Indonesia dari negara-negara tersebut.
“Hambatan non tarif, preferensi historis, atau keterbatasan konektivitas, logistik dan perjanjian dagang sebenarnya bukan tidak ada isu dengan negara tersebut,” ungkapnya.
Ariyo juga menyoroti diversifikasi regional yang belum optimal, terutama dengan ASEAN dan mitra Asia Timur yang menjadi mitra utama Indonesia namun pangsa impornya relatif kecil dan tersebar. Ini menunjukkan regional value chain belum dioptimalkan meskipun secara geografis dan institusional lebih dekat dengan Indonesia.
Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa diversifikasi bukan berarti mengurangi China secara absurd, tetapi mengurangi risiko sistemik. Jika pemasok dominan seperti China terlalu kuat, diversifikasi justru semakin menyempit bukan terdiversifikasi.
Untuk itu, Ariyo merekomendasikan pemerintah melakukan reformasi diplomasi ekonomi yang masif agar Indonesia dapat mengakses dan membuka market baru, serta mengurangi ketergantungan berlebihan pada satu negara pemasok.






