Menu

Mode Gelap
Kerawanan Pangan Papua Tetap Tinggi, Kemiskinan Jadi Faktor Utama Reformasi Polri-Kejaksaan-KPK Rampung Maret 2026? Indonesia Tidak Pernah Gagal Bayar Utang Ketergantungan Gandum Ancam Ketahanan Pangan Operasi Penertiban Morowali Dihentikan oleh Menhan karena Dua Alasan Ini? Indonesia Renovasi 16.140 Sekolah, Pasang 288.000 Panel Digital Interaktif di Seluruh Nusantara

INDAG

Ketergantungan Impor Indonesia pada China Capai 30 Persen, Diversifikasi Mendesak

badge-check


					Foto: Ariyo Irhamna/tangkapan layar Perbesar

Foto: Ariyo Irhamna/tangkapan layar

INAnews.co.id, Jakarta– Ekonom INDEF Ariyo Irhamna mengungkapkan ketergantungan impor Indonesia terhadap China telah mencapai lebih dari 30 persen dari total impor, menciptakan kerentanan sistemik terhadap gangguan rantai pasok, kebijakan perdagangan sepihak, dan eskalasi geopolitik.

Dalam diskusi publik bertema Ekonomi 2026 yang diselenggarakan INDEF Rabu (21/1/2026), Ariyo menjelaskan China menempati posisi sangat ekstrem sebagai pemasok produk impor Indonesia dengan pertumbuhan ekspor global yang relatif moderat, namun ekspor China ke Indonesia sangat progresif.

“Ketergantungan ini bukan hanya soal harga, tapi kerentanan terhadap gangguan rantai pasok, kebijakan perdagangan yang sangat rentan disetir secara sepihak karena dominannya China dalam perdagangan internasional dengan Indonesia, serta eskalasi geopolitik,” tegas Ariyo .

Berdasarkan data yang dipaparkan, China merupakan satu-satunya negara yang pertumbuhan pasokannya ke Indonesia melebihi pertumbuhan ekspor globalnya. Hal ini menegaskan ketergantungan yang semakin dalam sekaligus agresivitas China dalam menguasai pasar Indonesia.

Meski demikian, Ariyo mencatat bahwa mitra alternatif sebenarnya ada namun kurang dimanfaatkan. Sejumlah negara seperti India, Vietnam, Malaysia, UAE, Brazil, dan Saudi Arabia menunjukkan pertumbuhan ekspor global lebih cepat dibanding peningkatan impor Indonesia dari negara-negara tersebut.

“Hambatan non tarif, preferensi historis, atau keterbatasan konektivitas, logistik dan perjanjian dagang sebenarnya bukan tidak ada isu dengan negara tersebut,” ungkapnya.

Ariyo juga menyoroti diversifikasi regional yang belum optimal, terutama dengan ASEAN dan mitra Asia Timur yang menjadi mitra utama Indonesia namun pangsa impornya relatif kecil dan tersebar. Ini menunjukkan regional value chain belum dioptimalkan meskipun secara geografis dan institusional lebih dekat dengan Indonesia.

Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa diversifikasi bukan berarti mengurangi China secara absurd, tetapi mengurangi risiko sistemik. Jika pemasok dominan seperti China terlalu kuat, diversifikasi justru semakin menyempit bukan terdiversifikasi.

Untuk itu, Ariyo merekomendasikan pemerintah melakukan reformasi diplomasi ekonomi yang masif agar Indonesia dapat mengakses dan membuka market baru, serta mengurangi ketergantungan berlebihan pada satu negara pemasok.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Indonesia Tidak Pernah Gagal Bayar Utang

23 Januari 2026 - 17:45 WIB

Indonesia Renovasi 16.140 Sekolah, Pasang 288.000 Panel Digital Interaktif di Seluruh Nusantara

23 Januari 2026 - 16:41 WIB

Harga Beras Diprediksi Terus Naik Hingga Juni 2026, Program MBG Jadi Pemicu

23 Januari 2026 - 16:19 WIB

Populer INDAG