INAnews.co.id, Jakarta– Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) mendesak pemerintah Indonesia untuk berbicara secara kritis, tegas, dan berani terhadap kebijakan pemerintah Amerika Serikat terkait Venezuela, sebagaimana Indonesia pernah lakukan di masa lalu.
Ketua FPCI Dino Patti Djalal dalam video di akun X-nya Rabu (7/1/2026) menyatakan, meskipun Indonesia dan Amerika terikat dalam kemitraan strategis komprehensif—tingkat tertinggi partnership Indonesia—hal itu tidak menghalangi Indonesia untuk menyuarakan kritik.
“Mengenai Venezuela, seperti yang terjadi di Palestina, kami memohon pemerintah Indonesia untuk berbicara dengan kritik, dengan tegas, dan dengan berani terhadap pemerintah Amerika,” ujar Dino.
Ia mengingatkan Indonesia selalu melakukan kritik konstruktif di masa lalu saat menghadapi konflik Kamboja, Konvensi PBB tentang Hukum Laut, dan invasi Irak.
“Di antara mitra, selalu ada ruang untuk kritik yang sehat. Ingatlah bahwa ini adalah kemitraan yang berdasarkan kesetaraan, keseimbangan, dan rasa hormat, bukan subordinasi,” tegas Dino.
Dino menegaskan, jika Amerika tidak menerima kritik Indonesia, maka Amerika tidak berperan sebagai mitra sejati Indonesia, mengingat AS sendiri telah mengkritik Indonesia berkali-kali.
Ia menyebut tindakan AS mengenai Venezuela bertentangan dengan banyak prinsip utama yang dipegang Indonesia, termasuk non-intervensi, tidak menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan perselisihan, penghormatan atas kedaulatan dan integritas teritorial, serta penghormatan atas pilihan politik negara lain.
FPCI menyerukan agar tatanan dunia pasca-Perang Dunia II yang diciptakan AS tetap dijaga. “Tatanan dunia saat ini bergetar karena arsiteknya justru aktif menghancurkan sistem yang ia ciptakan sendiri,” kata Dino.
Dino menutup pernyataannya dengan kalimat: “Berbicara kebenaran kepada kekuasaan, berbicara kebenaran kepada rakyat, dengan keberanian tanpa ketakutan.”






