Menu

Mode Gelap
Indonesia Renovasi 16.140 Sekolah, Pasang 288.000 Panel Digital Interaktif di Seluruh Nusantara Harga Beras Diprediksi Terus Naik Hingga Juni 2026, Program MBG Jadi Pemicu Morowali Jadi Simbol Penyerahan Lima Kedaulatan Sekaligus ke China Pidato Prabowo di Davos: Sita 5 Juta Hektare Lahan Ilegal Ketergantungan Impor Indonesia pada China Capai 30 Persen, Diversifikasi Mendesak Putusan Kasus Pagar Laut Dinilai Tebang Pilih, PIK 2 tak Tersentuh

SOSIAL

Menjaga Hutan dari Penggundulan untuk Mencegah Banjir Bandang

badge-check


					Foto: dok. ist Perbesar

Foto: dok. ist

INAnews.co.id, Jakarta– Banjir bandang merupakan salah satu bencana alam yang paling merusak dan sering menimbulkan korban jiwa serta kerugian material yang besar. Berbeda dengan banjir biasa, banjir bandang datang secara tiba-tiba dengan arus air yang deras, membawa lumpur, batu, dan material kayu dari hulu ke hilir. Salah satu penyebab utama terjadinya banjir bandang adalah penggundulan hutan di wilayah hulu sungai. Ketika hutan tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya, keseimbangan alam terganggu dan risiko bencana meningkat secara signifikan.

Hutan memiliki peran vital sebagai penyangga ekosistem dan pelindung alami dari berbagai bencana hidrometeorologi. Pepohonan dengan akar yang kuat berfungsi menahan tanah, menyerap air hujan, serta memperlambat aliran permukaan. Saat hutan ditebang secara masif dan tidak terkendali, kemampuan alam untuk mengatur tata air pun menurun drastis. Inilah awal dari rangkaian peristiwa yang dapat berujung pada banjir bandang.

Peran Hutan dalam Menjaga Keseimbangan Tata Air

Hutan bekerja layaknya spons raksasa yang menyerap air hujan. Tajuk pohon memperlambat jatuhnya air hujan ke permukaan tanah, sehingga air tidak langsung mengalir deras. Akar pohon kemudian membantu menyerap dan menyimpan air ke dalam tanah, sekaligus memperkuat struktur tanah agar tidak mudah tergerus.

Ketika hujan turun dengan intensitas tinggi, hutan yang sehat mampu mengurangi limpasan air permukaan. Air akan dialirkan secara bertahap ke sungai, sehingga debit air tetap stabil dan tidak meluap secara tiba-tiba. Sebaliknya, pada kawasan hutan yang gundul, air hujan langsung menghantam tanah dan mengalir bebas tanpa hambatan. Tanah yang kehilangan penahan alami akan mudah longsor, terbawa arus, dan memperparah terjadinya banjir bandang.

Dampak Penggundulan Hutan terhadap Banjir Bandang

Penggundulan hutan, baik akibat penebangan liar, alih fungsi lahan, maupun pembukaan kawasan untuk perkebunan dan pertambangan, berdampak langsung pada meningkatnya risiko banjir bandang. Tanpa tutupan vegetasi, tanah menjadi rapuh dan mudah terkikis. Material tanah, pasir, dan batu yang terbawa air hujan akan masuk ke sungai, menyebabkan pendangkalan dan penyempitan alur sungai.

Pendangkalan sungai ini membuat daya tampung air berkurang. Saat hujan deras turun, sungai tidak mampu menampung debit air yang meningkat, sehingga air meluap dengan cepat dan menghantam kawasan permukiman di hilir. Inilah yang sering terjadi pada peristiwa banjir bandang, di mana air datang secara mendadak dan membawa material berbahaya.

Selain itu, banjir bandang juga merusak ekosistem sungai, lahan pertanian, dan infrastruktur. Jalan, jembatan, serta rumah warga rusak dalam waktu singkat. Dampak sosial dan ekonomi yang ditimbulkan sangat besar, terutama bagi masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana.

Pentingnya Menjaga Hutan sebagai Upaya Mitigasi Bencana

Menjaga hutan dari penggundulan bukan hanya soal pelestarian lingkungan, tetapi juga bagian penting dari mitigasi bencana. Upaya ini mencakup perlindungan kawasan hutan lindung, penegakan hukum terhadap penebangan liar, serta pengelolaan hutan secara berkelanjutan. Hutan yang dikelola dengan baik dapat memberikan manfaat ekonomi tanpa harus merusak fungsi ekologisnya.

Rehabilitasi dan reboisasi hutan juga menjadi langkah krusial dalam memulihkan kawasan yang telah rusak. Penanaman kembali pohon-pohon dengan jenis yang sesuai kondisi lahan akan membantu mengembalikan fungsi hutan sebagai penyerap air dan penahan tanah. Proses ini memang membutuhkan waktu, namun hasilnya sangat penting untuk mengurangi risiko banjir bandang di masa depan.

Peran Masyarakat dalam Melindungi Hutan

Masyarakat memiliki peran besar dalam menjaga kelestarian hutan. Kesadaran akan pentingnya hutan harus dimulai dari tingkat lokal, terutama bagi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan. Praktik pengelolaan hutan berbasis masyarakat, seperti hutan desa atau hutan adat, terbukti mampu menjaga keseimbangan antara kebutuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan.

Selain itu, masyarakat juga dapat berperan dengan melaporkan aktivitas penebangan liar, mendukung produk hasil hutan yang dikelola secara lestari, serta terlibat aktif dalam kegiatan penanaman pohon. Edukasi lingkungan yang berkelanjutan menjadi kunci agar generasi muda memahami bahwa menjaga hutan berarti menjaga keselamatan hidup bersama.

Tanggung Jawab Bersama untuk Masa Depan

Upaya menjaga hutan dari penggundulan tidak bisa dibebankan pada satu pihak saja. Pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat harus berjalan seiring. Kebijakan tata ruang yang berpihak pada kelestarian lingkungan, pengawasan yang ketat, serta sanksi tegas bagi perusak hutan perlu ditegakkan secara konsisten.

Di sisi lain, pembangunan ekonomi harus mempertimbangkan daya dukung lingkungan. Pemanfaatan sumber daya alam yang bijak akan memastikan bahwa hutan tetap berfungsi sebagai pelindung alami dari bencana, sekaligus sebagai sumber kehidupan bagi banyak orang.

Menjaga Hutan, Mencegah Banjir Bandang

Pada akhirnya, menjaga hutan dari penggundulan adalah langkah nyata untuk mencegah banjir bandang. Hutan yang lestari mampu menahan air, menjaga stabilitas tanah, dan melindungi wilayah di hilir dari ancaman bencana. Ketika hutan rusak, risiko banjir bandang meningkat dan dampaknya dirasakan oleh banyak pihak.

Dengan komitmen bersama untuk melindungi dan memulihkan hutan, kita tidak hanya menjaga keseimbangan alam, tetapi juga melindungi kehidupan manusia. Menjaga hutan hari ini adalah investasi bagi keselamatan dan keberlanjutan generasi mendatang. Seputar lingkungan bisa akses: DLH Aceh Barat Daya.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Butuh Alat Berat Lebih Banyak untuk Bersihkan Lumpur di Aceh Tamiang

23 Januari 2026 - 05:34 WIB

Menjaga Selokan, Langkah Sederhana Mencegah Banjir di Permukiman

22 Januari 2026 - 20:17 WIB

Forjim Siap Bekerja Sama dengan Pusat Kebudayaan Turki di Indonesia

22 Januari 2026 - 11:34 WIB

Populer SOSIAL