INAnews.co.id, Jakarta– Ekonom Rizal Taufikurahman memperingatkan pelebaran defisit fiskal dan peningkatan rasio utang pemerintah dapat memicu fiscal dominance yang mengancam independensi Bank Indonesia dan stabilitas rupiah.
Dalam diskusi publik yang digelar Selasa (27/1/2026), Rizal menyoroti defisit fiskal yang terus dalam sejak 2019 hingga 2025, sementara rasio utang pemerintah terhadap PDB telah mendekati 40 persen.
“Defisit yang kembali melebar setelah konsolidasi berpotensi menggerus trust market. Pasar tidak hanya melihat level defisit, tetapi arah dan konsistensinya,” kata Rizal.
Rizal menjelaskan, ketika fiscal dominance terjadi, bank sentral yang tidak independen akan digunakan untuk membiayai defisit fiskal secara tidak berkelanjutan. Hal ini akan menurunkan efektivitas dan kredibilitas BI.
Kondisi diperparah dengan beban bunga utang yang terus meningkat, belanja wajib yang semakin rigid, dan keseimbangan primer yang melebar. “Fleksibilitas APBN akan semakin terbatas, konsolidasi fiskal menjadi rapuh,” ujarnya.
Terkait pengangkatan Thomas Djiwandono, Rizal menegaskan hal itu tidak otomatis melemahkan independensi BI. Namun, kredibilitas dan independensi harus dijaga melalui empat hal: pembatasan diri individu dari kedekatan politik, sistem yang kuat di BI dan pemerintah, disiplin fiskal pemerintah, serta pengawasan parlemen yang profesional dan proporsional.
“Yang diuji bukan di awal pengangkatan, tetapi saat terjadi kontradiksi antara pemerintah dan BI. Di situlah independensi benar-benar dipertaruhkan,” tegasnya.
Rizal juga menekankan pentingnya disiplin fiskal yang kredibel dan konsisten, peningkatan kualitas belanja ke sektor produktif, serta koordinasi policy mix antara fiskal dan moneter yang kuat untuk menjaga stabilitas makroekonomi.






