INAnews.co.id, Jakarta– Konsistensi politik luar negeri Indonesia di bawah Presiden Prabowo Subianto dipertanyakan. Pengamat politik Rocky Gerung menyoroti inkonsistensi sikap Indonesia yang sempat gencar mempromosikan diri bergabung dengan BRICS — yang secara ideologis berseberangan dengan NATO dan Amerika Serikat — namun kemudian berbalik arah dengan masuk ke dalam kesepakatan Blueprint of Peace (BOP) bersama Trump.
“Kita masuk dalam BRICS, itu artinya kita punya ideological standing yang berbeda dengan negara-negara NATO. Tapi kemudian kita ikut dalam BOP, artinya kita meninggalkan lagi ide untuk memimpin Global South,” ujar Rocky.
Ia menilai Presiden Prabowo kini berada dalam dilema psikologis dan ideologis yang nyata: kembali ke BRICS berarti dianggap meninggalkan Trump, sementara tetap bergandengan dengan Trump berarti ikut jatuh bersama pemimpin yang sedang melemah itu.






