INAnews.co.id, Jakarta– Meski ekonomi tumbuh 5,11 persen, Indonesia menghadapi fenomena jobless growth dengan penyerapan tenaga kerja (naker) yang rendah. Tambahan angkatan kerja pada November 2025 hanya 1,3 juta orang, jauh di bawah kebutuhan 3-4 juta lapangan kerja baru per tahun.
“Pertumbuhan ekonomi kita tidak terlalu sensitif terhadap penyerapan tenaga kerja, khususnya di sektor formal,” kata Ahmad Heri Firdaus, peneliti Center of Industry Trade and Investment INDEF dalam diskusi publik bertajuk “Pertumbuhan di Tengah Gejolak Pasar Saham”, Kamis (6/2/2026).
Kontribusi industri pengolahan terhadap PDB stagnan di 19,07 persen, jauh dari target 28 persen. Yang lebih mengkhawatirkan, sektor pertanian masih mendominasi penyerapan tenaga kerja, bukan industri manufaktur.
“Harusnya ketika sektor industri leading dalam PDB, tenaga kerjanya juga leading. Ini menunjukkan tenaga kerja di sektor primer sulit terangkat ke sektor formal dan manufaktur,” ungkap Heri.
Kondisi ini diperparah oleh pertumbuhan investasi (PMTB) yang hanya 5,09 persen, di bawah pertumbuhan ekonomi. Incremental Capital Output Ratio (ICOR) Indonesia juga masih tinggi, menunjukkan investasi belum efisien.
“Untuk menciptakan satu unit barang diperlukan lebih banyak modal. Harusnya investasi yang masuk lebih efisien dan peka terhadap peningkatan pertumbuhan ekonomi,” jelas Heri.
INDEF merekomendasikan perbaikan fundamental di sektor manufaktur, logistik, dan pembiayaan, serta peningkatan produktivitas tenaga kerja.






