INAnews.co.id, Jakarta– Program Makan Bergizi Gratis (MBG) disebut turut menggerus ruang fiskal yang seharusnya bisa dialokasikan untuk keselamatan transportasi publik. Kritik ini disampaikan dalam diskusi Indonesia Leader Talk, Jumat (1/5/2026), menyusul kecelakaan kereta api beruntun di Bekasi.
Peneliti Celios, Isnawati Hidayah, memaparkan bahwa saldo anggaran lebih (SAL) negara kini tinggal sekitar Rp120 triliun, ibarat dana darurat rumah tangga yang kian menipis. Di tengah tekanan fiskal itu, MBG dan program Kopdes justru terus menyedot anggaran besar.
Celios merekomendasikan agar MBG dibuat lebih tertarget: hanya menyasar anak sekolah dan balita dari keluarga tidak mampu, yatim piatu, korban PHK, korban bencana, serta masyarakat di daerah 3T. Dengan skema itu, negara bisa menghemat hingga Rp230 triliun hingga akhir 2026.
“Dapur SPPG paling banyak justru ada di provinsi dengan tingkat kemiskinan rendah. Pertanyaannya, ini untuk siapa?” ujar Isnawati.
Peneliti Litbang Kompas, Budiawan Sidik A, menambahkan bahwa kebijakan efisiensi anggaran yang berlangsung saat ini juga berdampak pada pos mitigasi bencana dan anggaran Kementerian Perhubungan, yang ujungnya meningkatkan risiko keselamatan bagi pengguna transportasi publik.






