Menu

Mode Gelap
Setelah Dilantik Pengurus Lantip Tangsel Bersiap Merayakan HUT Lantip ke 8 Akar Masalah Rupiah Tertekan karena Institusi Lemah, Kata Guru Besar UI Polri Luncurkan Layanan Digital, Respons Panggilan 110 Detik Penghambat Utama Masuk Investasi Asing: Rendahnya Kapasitas SDA Polri Buka Rekrutmen Inklusif bagi Penyandang Disabilitas Independensi Bank Indonesia Terancam Gara-Gara UU P2SK

INDAG

IHSG Terdesak Aksi Jual Investor

badge-check


					IHSG Terdesak Aksi Jual Investor Perbesar

INAnews.co.id – Pasar keuangan dalam negeri tertekan pada perdagangan hari Selasa. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi 0,73% sementara nilai tukar rupiah terdepresiasi tipis 0,03% di hadapan dolar Amerika Serikat (AS).

Penurunan IHSG senada dengan bursa saham utama regional. Indeks Nikkei 225 ditutup anjlok 2,67%, Indek Shanghai turun 2,26%, Hang Seng turun 3,08% dan KOSPI turun 2,57%. Aksi ambil untung yang dilakukan oleh investor membuat bursa saham regional jatuh. Investor membukukan keuntungan dalam perdagangan 19 – 22 Oktober. Dimana indeks Shanghai melesat 6,78%, sementara Hang Seng menguat 2,74%.

Ditengah ketidakpastian ini, investor bermain aman dengan melepas instrumen berisiko. Kekhawatiran akan stabilitas perekonomian dunia mendasari aksi ambil untung ini. Situasi global yang tidak kondusif tersebut akhirnya memaksa investor ramai-ramai beralih ke instrumen safe haven, salah satunya dolar AS. Hingga siang kemarin, Indek Dolar menguat cukup kencang, hingga menyentuh level 96,089. Capaian itu merupakan yang tertinggi sejak Agustus.

Tidak hanya itu, perkembangan perang dagang AS vs China yang tidak kondusif juga turut membuat investor was-was. Zhang Qingli, anggota utama dari komite pemerintah China yang bertugas untuk menjalin kerjasama dengan negara lain, memberitahu sejumlah investor asal AS bahwa Beijing tidak takut berperang dagang dengan Washington.

“China tidak pernah mau berperang dagang dengan siapa pun, termasuk AS yang merupakan mitra strategis dalam jangka panjang. Namun kami juga tidak takut dengan perang semacam itu,” ujar Zhang pada pertemuan investor di Beijing, seperti dikutip dari CNBC International.

Dari dalam negeri dilaporkan bahwa Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan. Keputusan ini sesuai dengan konsensus yang bahwa bank sentral akan mempertahankan 7-Day Reverse Repo Rate di level 5,75%.

Kenaikan suku bunga acuan sejatinya menjadi amunisi bagi rupiah untuk bisa menguat, apalagi dalam menghadapi sikap The Federal Reserve/The Fed yang cenderung masih hawkish. Namun, dengan ditahannya suku bunga acuan, praktis tak ada sentimen dari dalam negeri yang bisa meredam pelemahan rupiah.

Akibat rupiah yang gagal ke zona hijau, aksi jual terpantau gencar dilakukan oleh investor asing di pasar saham. Pada akhir perdagangan, investor asing mencatatkan jual bersih Rp 77,9 miliar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Kadin: Dunia Usaha “Bertahan Saja Sudah Cukup” di Tengah Tekanan Global

26 Juni 2026 - 15:37 WIB

Industri Nasional Masih Impor Bahan Baku

18 Juni 2026 - 19:32 WIB

Kurban Online Berisiko Kikis Nilai Sosial dan Spiritual

27 Mei 2026 - 21:10 WIB

Populer INDAG