INAnews.co.id – Pasar keuangan dalam negeri tertekan pada perdagangan hari Selasa. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi 0,73% sementara nilai tukar rupiah terdepresiasi tipis 0,03% di hadapan dolar Amerika Serikat (AS).
Penurunan IHSG senada dengan bursa saham utama regional. Indeks Nikkei 225 ditutup anjlok 2,67%, Indek Shanghai turun 2,26%, Hang Seng turun 3,08% dan KOSPI turun 2,57%. Aksi ambil untung yang dilakukan oleh investor membuat bursa saham regional jatuh. Investor membukukan keuntungan dalam perdagangan 19 – 22 Oktober. Dimana indeks Shanghai melesat 6,78%, sementara Hang Seng menguat 2,74%.
Ditengah ketidakpastian ini, investor bermain aman dengan melepas instrumen berisiko. Kekhawatiran akan stabilitas perekonomian dunia mendasari aksi ambil untung ini. Situasi global yang tidak kondusif tersebut akhirnya memaksa investor ramai-ramai beralih ke instrumen safe haven, salah satunya dolar AS. Hingga siang kemarin, Indek Dolar menguat cukup kencang, hingga menyentuh level 96,089. Capaian itu merupakan yang tertinggi sejak Agustus.
Tidak hanya itu, perkembangan perang dagang AS vs China yang tidak kondusif juga turut membuat investor was-was. Zhang Qingli, anggota utama dari komite pemerintah China yang bertugas untuk menjalin kerjasama dengan negara lain, memberitahu sejumlah investor asal AS bahwa Beijing tidak takut berperang dagang dengan Washington.
“China tidak pernah mau berperang dagang dengan siapa pun, termasuk AS yang merupakan mitra strategis dalam jangka panjang. Namun kami juga tidak takut dengan perang semacam itu,” ujar Zhang pada pertemuan investor di Beijing, seperti dikutip dari CNBC International.
Dari dalam negeri dilaporkan bahwa Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan. Keputusan ini sesuai dengan konsensus yang bahwa bank sentral akan mempertahankan 7-Day Reverse Repo Rate di level 5,75%.
Kenaikan suku bunga acuan sejatinya menjadi amunisi bagi rupiah untuk bisa menguat, apalagi dalam menghadapi sikap The Federal Reserve/The Fed yang cenderung masih hawkish. Namun, dengan ditahannya suku bunga acuan, praktis tak ada sentimen dari dalam negeri yang bisa meredam pelemahan rupiah.
Akibat rupiah yang gagal ke zona hijau, aksi jual terpantau gencar dilakukan oleh investor asing di pasar saham. Pada akhir perdagangan, investor asing mencatatkan jual bersih Rp 77,9 miliar.






