INAnews.co.id, Kalbar – Rapat Dengar Pendapat (RDP) Bersama Dirut PT. PLN (Persero), Katherine minta daerah terpencil diperhatikan.
Anggota Komisi VII DPR RI, Katherine Angela Oendoen dari Daerah Pemilihan (Dapil) Kalimantan Barat I, Fraksi Partai Gerindra menyampaikan persoalan ketersediaan pasokan listrik di daerah terpencil di Kalimantan Barat.
Rapat yang digelar pada hari Rabu 26 Januari 2022 di Gedung Senayan Jakarta tersebut terkait program prioritas PT. PLN Persero tahun 2022 serta mengenai kondisi pasokan energi primer untuk pembangkit listrik, roadmap netral karbon tahun 2060.
“Dari Dapil saya, Kalimantan Barat I. Kami mempunyai lima pintu perbatasan, dan beberapa Desa masih sangat terpencil, sehingga masih banyak yang tidak teraliri listrik. Saya menginginkan untuk daerah-daerah terpencil bukan hanya Kalimantan Barat saja, tetapi juga Irian, Maluku serta daerah lainnya mendapatkan peningkatan anggaran,” ungkap Katherine kepada INAnews pada Rabu 26 januari 2022.
Katherine juga menyampaikan persoalan saat berkunjung bersama dengan General Manager (GM) PT. PLN Wilayah Kalbar di Kabupaten Sambas.
“Saya pergi ke Sambas bersama GM PLN Kalbar. Di daerah Paloh, ada tenaga surya yang baterainya sudah rusak selama bertahun-tahun. Dan ada juga yang menggunakan suku cadang dari solar. Jika solar terlambat datang, otomatis daerah tersebut tidak ada penerangan selama berminggu-minggu,” lanjutnya.
Katherine berharap PLN peduli dengan Desa – Desa terpencil dan tertinggal di Kalimantan Barat, agar masyarakat dapat menikmati pasilitas penerangan seperti daerah-daerah lain.
“Saya menyerahkan proposal lagi nih pak Direktur. Saya harus berikan, karena kalau tidak saya berikan berarti saya tidak turun kekampung-kampung. Saya turun ke kampung-kampung karena saya ingin daerah saya terang,” ungkap politisi Partai Gerindra tersebut.
Ia juga menyampaikan kehadiran PLN jangan hanya di Desa saja yang di aliri listrik, namun Dusun juga harus mendapatkan aliran listrik karena untuk satu Desa terdapat 4 sampai 5 Dusun.
Reporter : Antonius
Editor : M. Helmi






