Menu

Mode Gelap
Tips Jaga Kesehatan di Musim Hujan di Kota Semarang Menjaga Kesehatan di Musim Hujan: Tips Sehat di Tengah Ancaman Banjir Oknum Anggota TNI AL Terlibat Perkelahian di Talaud, Lanal Minta Maaf, Proses Hukum Berlanjut Ekspor Indonesia Masih Terjebak di Komoditas Mentah, Daya Saing Terancam Kedaulatan Rakyat Harus Dikembalikan Indonesia Pilih Perdamaian, Ingin Jadi Teman Semua dan Musuh tak Seorang Pun

EKONOMI

Pengamat Ekonomi Sorot Keuangan Goto

badge-check


					Foto: Managing Director PEPS (Political Economy and Policy Studies) Anthony Budiawan, dok. rmol Perbesar

Foto: Managing Director PEPS (Political Economy and Policy Studies) Anthony Budiawan, dok. rmol

INAnews.co.id, Jakarta– Pengamat ekonomi Anthony Budiawan sorot keuangan Goto yang disebutnya telah mengakibatkan masyarakat rugi puluhan triliun rupiah, termasuk Telkomsel (Telkom).

“Harga saham Goto amblas, masuk kategori saham Gocap sejak 19 Juni 2024. PT Goto Gojek Tokopedia (Goto), yang digembar-gembor mempunyai kapitalisasi pasar (= perusahaan) terbesar di Indonesia ketika menawarkan saham perdananya (IPO, Initial Public Offering) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada April 2022, akhirnya ambruk,” kata Budi, dalam tulisannya, yang diterima media, Jumat (5/7/2024).

Amblasnya harga saham Goto menurut dia seharusnya sudah dapat diperkirakan sejak awal IPO, karena diwarnai berbagai macam skandal kejahatan keuangan, dengan cara menggelembungkan aset dan harga saham sebelum IPO.

“Setidaknya ada tiga skandal keuangan yang dilakukan Goto menjelang dan saat IPO, yang dapat masuk kategori tindak pidana kejahatan keuangan berat,” kata Managing Director PEPS (Political Economy and Policy Studies) itu.

Skandal pertama kata dia, terkait akuisisi Tokopedia. Sebelum penawaran saham perdana (IPO) awal April 2022, Goto akuisisi 99,99 persen (baca: seluruh) saham Tokopedia, berlaku efektif 17 Mei 2021, dengan nilai Rp113,2 triliun.

“Nilai akusisi ini sangat tidak wajar, patut diduga untuk tujuan menggelembungkan aset Goto sebelum ‘Go Public’, untuk mendongkrak harga saham perdana Goto.”

“Penggelembungan aset Goto (melalui akuisisi Tokopedia) tercermin dari nilai ‘Goodwill’ yang sangat besar dan tidak normal, mencapai Rp93,1 triliun (dari Rp113,2 triliun), atau 82,2 persen dari nilai akuisisi,” tambahnya.

‘Goodwill’ adalah aset tidak berwujud yang diharapkan dapat menghasilkan laba di masa depan.

“Ternyata, bukan ‘Goodwill’ yang didapat Goto, tetapi ‘Badwill’. Tokopedia tidak pernah menghasilkan laba sejak berdiri 2009 sampai saat ini. Akumulasi rugi Tokopedia per 31 Desember 2020, menjelang diakuisisi Goto, mencapai Rp18,3 triliun,” katanya.

“Oleh karena itu, menjadi pertanyaan besar, bagaimana perusahaan yang belum pernah menghasilkan laba selama berdiri, dengan akumulasi rugi sebesar itu, bisa diakuisisi dengan harga jumbo senilai Rp113,2 triliun, dengan ‘Goodwill’ Rp93,1 triliun?” tanyanya.

Nilai akuisisi yang sangat tidak wajar ini menurut dia jelas menunjukkan terjadi skandal kejahatan keuangan penggelembungan aset Goto menjelang ‘Go Public’, yang akhirnya membuat masyarakat rugi puluhan triliun rupiah.

“Tidak perlu waktu lama, penggelembungan aset Goto, dan aset Tokopedia, akhirnya terbuka, dan terbukti. Desember 2023, Goto menjual 75 persen kepemilikannya di Tokopedia kepada Tiktok, dengan nilai hanya 840 juta dolar AS, atau sekitar Rp13 triliun, atau sekitar Rp17,3 triliun untuk 100 persen nilai perusahaan Tokopedia.”

Nilai jual ini sangat rendah, hanya sekitar 15 persen dari nilai akuisisi Goto terhadap Tokopedia pada tahun 2021 yang mencapai Rp113,2 triliun. Untuk transakai penjualan Tokopedia ini, Goto mengalami rugi sangat besar, mencapai Rp73,2 triliun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Bank Banten (BEKS) Gelar RUPSLB Bahas Perubahan Pengurus

23 Januari 2026 - 15:03 WIB

Investasi Luar Jawa Ungguli Pulau Jawa

19 Januari 2026 - 16:51 WIB

Singapura Konsisten Jadi Investor Terbesar

19 Januari 2026 - 15:50 WIB

Populer EKONOMI