INAnews.co.id, Jakarta– Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini, Selasa (17/6/2025), kembali menunjukkan pelemahan. Mata uang rupiah tertekan oleh sentimen global yang memicu aksi jual pada aset-aset berisiko, termasuk mata uang emerging markets.
Mengutip data Bloomberg pada pukul 10.18 WIB, rupiah tercatat melemah ke posisi Rp16.288 per dolar AS. Ini menunjukkan pelemahan sebesar 0,14% atau 23,5 poin dibandingkan penutupan perdagangan kemarin.
Sementara itu, indeks dolar AS terpantau menguat 0,25% ke level 98,24, mengindikasikan penguatan mata uang Paman Sam secara umum.
Analis pasar uang mengamati bahwa pelemahan rupiah ini sejalan dengan tren di pasar global. Konflik geopolitik yang masih bergejolak di Timur Tengah, terutama serangan baru antara Israel dan Iran, kembali memicu kekhawatiran investor. Hal ini mendorong investor untuk mencari aset yang lebih aman (safe haven) seperti dolar AS, sehingga menekan mata uang berisiko lainnya, termasuk rupiah.
Selain itu, fokus pasar juga tertuju pada serangkaian pertemuan bank sentral pekan ini. Dimulai dengan Bank of Japan (BoJ) hari ini, diikuti Federal Reserve (The Fed) pada Rabu, serta Bank of England, Bank Nasional Swiss, dan Bank Rakyat China yang juga akan memutuskan suku bunga pada akhir pekan ini. Kebijakan moneter dari bank-bank sentral utama ini akan sangat memengaruhi pergerakan pasar keuangan global, termasuk nilai tukar mata uang.
Pada Senin (16/6/2025) kemarin, rupiah sempat ditutup menguat tipis setelah beberapa hari tertekan. Namun, sentimen negatif dari perkembangan geopolitik tampaknya kembali mendominasi hari ini.
Para pengamat memprediksi rupiah akan bergerak fluktuatif dalam beberapa waktu ke depan, seiring dengan dinamika sentimen global. Investor disarankan untuk memantau perkembangan terkini dan mempertimbangkan risiko dengan cermat dalam melakukan transaksi mata uang.*






