INAnews.co.id, Jakarta – Teknik Sipil Universitas Bakrie adakan Seminar Nasional dan Talk Show yang dinamakan Transforming Cities for a Greener Future dengan tema “Enhancing Suistanability Through Policy” .
Acara yang bertujuan untuk mendorong strategi pembangunan kota hijau, inovasi material berkelanjutan seperti kaca berperforma tinggi, serta kolaborasi lintas sektor dalam mendukung kebijakan untuk lingkungan binaan yang ramah lingkungan dan layak huni.
Seminar ini terbagi menjadi dua sesi dimana untuk sesi kesatu mengulas kebijakan dan standar keberlanjutan yang mendukung penerapan bangunan hijau, bersama para pemangku kepentingan di bidang sertfikasi dan regulasi.
Kemudian untuk sesi kedua membahas inovasi bangunan hijau yang di implementasikan dalam desain bangunan kaca dari sudut pandang arsitektur dan struktur, dengan menghadirkan akademisi dan pakar industri.
Pelaksanaan Transforming Cities for a Greener Future 2025 diadakan di lantai Auditorium lantai 42 Bakrie Tower Universitas Bakrie.
Rektor Universitas Bakrie Prof. Ir. Sofia W. Alisjahbana, menyambut baik kepada program studi Teknik Sipil karena sudah mengadakan seminar dan talk show ini.

Peserta Seminar Nasional Teknik Sipil Universitas Bakrie pada Kamis 19 Juni 2025 di Auditorium Universitas Bakrie, Jakarta Selatan ( foto : INAnews)
“Kegiatan seminar ini bukan hanya soal statement, tapi ini adalah action untuk perubahan menuju Green Building dengan impact bagaimana cara kita untuk antara inovasi dan kebijakan, perencanaan tata kota, dan prinsip-prinsip keberlanjutan guna menjawab tantangan urbanisasi masa kini dan masa depan,” ucap Prof. Ir. Sofia W. Alisjahbana dalam sambutannya, Kamis 19 Juni 2025.
Sambutan luar biasa juga disampaikan oleh ketua panitia Susania Novita Putri, yang menyatakan Transforming Cities for a Greener Future bukan hanya sekedar topik.
“Hari ini akan banyak banget pengetahuan melalui integrasi kebijakan, teknologi, dan inovasi material ramah lingkungan dan pengimplementasiannya. Setiap orang yang hadir memberikan kontribusi untuk membawa perubahan untuk Indonesia,” kata Novita.
Sesi pertama dari acara ini dengan membahas Policy and Perfomance Driving Suistanability in Green Building yang menghadirkan tiga pemateri.

Para pemateri di acara Seminar Nasional yang diselenggarakan oleh Teknik Sipil Universitas Bakrie ( foto: INAnews )
Pemateri pertama Fajar Santoso Hutahaenan, Ketua Sekretariat BGH mengatakan bangunan hijau itu penting dikarenakan dengan bangunan gedung hijau untuk aksi mitigasi perubahan yang dipercaya mengkonsumsi energi dari listrik terbesar setalah industri dan transportasi.
“Untuk mitigasi aksi perubahan untuk mencapai terjadi efisiensi energi minium 20%. Dengan tema ini memperhatikan urban sustainability, khususnya dalam pengelolaan energi di kawasan perkotaan yang padat dan berkembang pesat. Acara hari ini langkah awal untuk pengembangan bangunan hijau terutama untuk mahasiswa Teknik Sipil, Teknik Lingkungan, dan Arsitek, ” ujar Fajar Santoso.
Pembicara selanjutnya, Ir. Tateng K. Djasudarma, katakan emisi dari bahan fosil dan industri di Indonesia terus meningkat setiap tahunnya.
“Manfaat bangunan Gedung hijau untuk mengurangi dampak negatif dari bangunan, menciptakan dampak positif terhadap lingkungan dan iklim, serta meningkatkan kualitas hidup penghuninya” kata Tateng.
Selanjutnya, penyampaian materi oleh pemateri ketiga Ir. Ignesjz Kemalawarta katakan bangunan gedung hijau digunakan untuk mempertimbangkan sumber daya seperti energi, air, dan material.
“Bangunan Gedung Hijau juga digunakan sebagai upaya pengurangan banjir dengan cara menyerap air hujan ke dalam tanah dan pemanenan air hujan,” terangnya.
Pada diskusi sesi kedua dibahas Green Building Implementation Bridging Architecture and Structural Integrity of Glass Material yang menghadirkan dua pemateri.
Pemateri pertama Assoc. Prof. Marcin Kozlowski, dari Silesian University of Technology menyampaikan jika kaca modern dalam konstruksi memegang peranan penting untuk mendukung pembangunan kota berkelanjutan.
“Circular economy dan prinsip 6R menjadi pendekatan yang merupakan kunci dalam desain dan pemanfaatan material kaca masa depan,” jelas Marcin.
Hal senada juga disampaikan oleh pembicara Teguh Aryanto, Ketua Ikatan Arsitek Indonesia Jakarta jika masa depan yang lebih hijau dimulai dengan kota yang dirancang untuk keadilan di mana setiap ruang adalah milik semua orang.
“Perencanaan pembangunan oleh arsitek yang sesuai dengan distribusi yang setara, serta lingkungan yang berkelanjutan. Boleh lingkungan hijau, tetepi tetap terbuka untuk publik,”katanya.
Reporter : TB Farhan






