INAnews.co.id, Jakarta– Ketua Dewan Pembina Mer-C, Dokter Sarbini membagikan pengalamannya terlibat dalam sebuah misi rahasia menuju Gaza pada tahun 2007, serta menekankan pentingnya tindakan konkret dan terstruktur dalam membantu rakyat Palestina. Ia menyampaikan pandangannya dalam sebuah acara diskusi bertajuk “Konvoi Damai Menembus Blokade Gaza”, di Balai Kartini, Jakarta, Sabtu (28/6/2025).
Sarbini mengawali ceritanya dengan mengibaratkan misi tersebut sebagai persiapan bagi kedatangan Imam Mahdi, sembari menyiratkan risiko besar yang melekat pada operasi tersebut. “Operasi yang benar-benar menakutkan, operasi yang benar-benar menakutkan dan tahu siapa yang akan berada di sana,” ujarnya.
Ia menceritakan bagaimana dirinya harus berhati-hati dalam berkomunikasi. Selama hampir setahun, ia merahasiakan misi tersebut bahkan dari keluarganya. “Saya hampir setahunlah saya ingin menyesuaikan itu pada saya untuk mempunyai akses kepada saya sehubungan itu mengenai apa yang saya hargai banget untuk saya dengan ketika menghubungkan oleh suami-suami saya berada di rumah sakit, saya menunjukkan tugas rahasia saya itu dia,” kenangnya.
Misi tersebut dijalankan secara diam-diam, bahkan kepulangannya mengejutkan keluarga karena tidak ada kabar selama setahun. Sarbini menyoroti tantangan besar dalam menyediakan fasilitas medis di Gaza. “Dengan misi, kita tidak bisa bawa rumah sakit di Gaza, menggunakan institusi, selama-lamanya bisa masuk ke Gaza. Ini putaran yang luar biasa,” tambahnya.
Dukungan untuk Gerakan Kemanusiaan dan Kritik Terhadap Kebijakan Pemerintah
Sarbini menyuarakan dukungan penuhnya terhadap inisiatif seperti “Konvoi Damai” yang digagas oleh Ustaz Bachtiar Nasir dan Ustaz Husein. “Kita berusaha apapun yang bisa kita lakukan, lakukanlah agar kita bisa menjadi satu perangkat, menjadi satu barisan untuk Ustaz Bachtiar dan Ustaz Husein,” serunya. Ia menilai bahwa gerakan ini adalah bentuk “kemuakan” warga Indonesia terhadap situasi di Gaza dan merupakan bagian dari perlawanan global.
Namun, Sarbini juga mengkritisi pendekatan pemerintah yang ia anggap kurang praktis dan terstruktur dalam membantu Palestina. “Langkah-langkah praktis. Tidak ada konsep yang jelas untuk bentuk polisi tidak mesra jelas untuk pemerintah-pemerintah. Tidak mesra jelas. Jadi, membela polisi tidak default for international,” katanya, merujuk pada kurangnya kebijakan yang solid dan proaktif.
Ia mencontohkan, ketika Presiden Prabowo meminta perusahaan ASUS untuk membantu di Gaza, hal itu tidak cukup hanya dengan permintaan lisan. “Tidak ada yang benar-benar se-praktis itu. Ia harus dibicarakan, ia harus dilakukan oleh pemerintah,” tegas Sarbini, menekankan pentingnya koordinasi resmi dan tindakan nyata oleh negara.
Perang dan Perdamaian: Perspektif Taktis dan Kemanusiaan
Sarbini juga menyinggung dinamika konflik antara Iran dan Israel, serta peran Iran dalam melatih pasukan Palestina. Ia mengakui kekalahan secara taktis dalam upaya-upaya tertentu, namun baginya, hal terpenting adalah keselamatan warga Gaza dan Yerusalem.
Ia juga menyoroti konsep “perdamaian” yang harus diiringi dengan keadilan. “Kami tidak akan berdamai kalau tidak disertakan perdamaian yang berbeda-beda. Tapi ketika yang berdamai tidak berbeda, itu adalah sebuah tahap,” jelasnya, mengindikasikan bahwa perdamaian sejati hanya tercapai jika ada keadilan.
Di akhir pernyataannya, Dokter Sarbini menegaskan pentingnya membantu Palestina dengan hal-hal dasar seperti nasi dan makanan, yang menurutnya adalah bentuk kebahagiaan penting dan menjadi jawaban atas pertanyaan tanggung jawab terhadap Palestina.






