INAnews.co.id – Gempa bumi berkekuatan 7,4 SR dengan pusat di kedalaman 10 kilometer pada 27 kilometer timur laut Donggala, Sulawesi Tengah, terjadi pada Jumat (28/9) pukul 17.02 WIB. Gempa bumi ini telah memicu tsunami setinggi 0,5 hingga 6 meter di pesisir barat Sulawesi Tengah.
Hingga kini, jumlah kerugian diperkirakan lebih dari 10 trilyun. Pasalnya, saat terjadi gempa di Lombok Nusa Tenggara Barat beberapa waktu lalu, kerugian mencapai diatas 5 trilyun. Berdasarkan hasil perhitungan sementara Kedeputian Rehabilitasi dan Rekonstruksi BNPB, gempa bumi Lombok menimbulkan kerugian mencapai Rp 5,04 triliun.
Sementara Jumlah korban jiwa dan kerusakan bencana di Palu, Donggala dan sekitarnya lebih dari dua kali lipat. Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) menyatakan gempa dan tsunami di Palu dan Donggala mengakibatkan kerugian materiil dan nonmateriil.
Aprindo mencatat kerugian yang diderita sekitar Rp 450 miliar dialami oleh anggota yang memiliki gerai toko modern seperti Ramayana, Matahari, Hypermart, Alfamidi dan lain-lainnya, di Poso, Palu dan Donggala.
“Kerugian ini meliputi kerusakan bangunan, display barang dagangan & stock barang di gudang serta sedikitnya 5 orang korban jiwa dari para penjaga toko akibat gempa & tsunami,” jelas pernyataan resmi Aprindo, Minggu (30/9/2018).
Pasca Gempa Inflansi Tinggi
Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) mengingatkan kepada pemerintah agar bisa mempercepat penyaluran bantuan kepada korban. Pasalnya, kurangnya ketersediaan sejumlah barang di wilayah tersebut berpotensi mengerek laju inflasi di Oktober 2018. Bukan tidak mungkin, target inflasi di 3,5% hingga akhir tahun bisa terganggu.
“Kalau supply di sana susah, harga tinggi, akan tercatat. Inflasi tinggi, bisa jadi tinggi. Makanya harus cepat,” kata Deputi Bidang Statistik, Distribusi dan Jasa BPS Yunita Rusanti, Senin (01/10).
Berdasarkan data otoritas statistik, pergerakan Indeks Harga Konsumen (IHK) di Palu pada bulan September 2018 masih mengalami deflasi 0,19%. Bulan ini, bukan tidak mungkin terjadi inflasi lebih tinggi karena bencana alam di Palu.
Kepala BPS Suhariyanto menambahkan, bencana alam yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia memang berpotensi memberikan pengaruh terhadap laju inflasi. Namun, metode yang digunakan otoritas statistik mencakup keseluruhan.






