Menu

Mode Gelap
Muhammadiyah Tegaskan ‘Aliansi Muda Muhammadiyah’ Bukan Sikap Resmi Organisasi Dibawah Kepemimpinan Listyo Sigit Polri Hadir Sebagai Aktor Pembangunan Nasional Destinasi Wisata Alam Menarik di Kabupaten Bone Bolango Ketahuan ‘Kumpul Kebo’ Siap-siap Dipidana di KUHP Baru Amien Rais Sebut KUHP Baru Gerbang Otoritarianisme Mendesak Indonesia Kritik Keras Kebijakan AS soal Venezuela

INDAG

Aprindo catat kerugian pasca bencana Palu, Rp. 450 miliar

badge-check


					Aprindo catat kerugian pasca bencana Palu, Rp. 450 miliar Perbesar

INAnews.co.id – Gempa bumi berkekuatan 7,4 SR dengan pusat di kedalaman 10 kilometer pada 27 kilometer timur laut Donggala, Sulawesi Tengah, terjadi pada Jumat (28/9) pukul 17.02 WIB. Gempa bumi ini telah memicu tsunami setinggi 0,5 hingga 6 meter di pesisir barat Sulawesi Tengah.

Hingga kini, jumlah kerugian diperkirakan lebih dari 10 trilyun. Pasalnya, saat terjadi gempa di Lombok Nusa Tenggara Barat beberapa waktu lalu, kerugian mencapai diatas 5 trilyun. Berdasarkan hasil perhitungan sementara Kedeputian Rehabilitasi dan Rekonstruksi BNPB, gempa bumi Lombok menimbulkan kerugian mencapai Rp 5,04 triliun.

Sementara Jumlah korban jiwa dan kerusakan bencana di Palu, Donggala dan sekitarnya lebih dari dua kali lipat.  Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) menyatakan gempa dan tsunami di Palu dan Donggala mengakibatkan kerugian materiil dan nonmateriil.

Aprindo mencatat kerugian yang diderita sekitar Rp 450 miliar dialami oleh anggota yang memiliki gerai toko modern seperti Ramayana, Matahari, Hypermart, Alfamidi dan lain-lainnya, di Poso, Palu dan Donggala.

“Kerugian ini meliputi kerusakan bangunan, display barang dagangan & stock barang di gudang serta sedikitnya 5 orang korban jiwa dari para penjaga toko akibat gempa & tsunami,” jelas pernyataan resmi Aprindo, Minggu (30/9/2018).

Pasca Gempa Inflansi Tinggi

Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) mengingatkan kepada pemerintah agar bisa mempercepat penyaluran bantuan kepada korban. Pasalnya, kurangnya ketersediaan sejumlah barang di wilayah tersebut berpotensi mengerek laju inflasi di Oktober 2018. Bukan tidak mungkin, target inflasi di 3,5% hingga akhir tahun bisa terganggu.

“Kalau supply di sana susah, harga tinggi, akan tercatat. Inflasi tinggi, bisa jadi tinggi. Makanya harus cepat,” kata Deputi Bidang Statistik, Distribusi dan Jasa BPS Yunita Rusanti, Senin (01/10).

Berdasarkan data otoritas statistik, pergerakan Indeks Harga Konsumen (IHK) di Palu pada bulan September 2018 masih mengalami deflasi 0,19%. Bulan ini, bukan tidak mungkin terjadi inflasi lebih tinggi karena bencana alam di Palu.

Kepala BPS Suhariyanto menambahkan, bencana alam yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia memang berpotensi memberikan pengaruh terhadap laju inflasi. Namun, metode yang digunakan otoritas statistik mencakup keseluruhan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Target Pertumbuhan 5,4 Persen Sulit Tercapai, Konsumsi dan Kredit Melemah

5 Januari 2026 - 23:39 WIB

Paradoks Industri Nasional: Tumbuh tapi Tidak Serap Tenaga Kerja

31 Desember 2025 - 11:16 WIB

Cukai Rp20.000 Per Liter Hambat Daya Saing Bioetanol Indonesia

29 Desember 2025 - 20:58 WIB

Populer ENERGI