Menu

Mode Gelap
Danantara Proyeksi Dongkrak PDB 3 Persen di Awal Model Overlapping Generation Ungkap Dampak MBG Muhammadiyah Tegaskan ‘Aliansi Muda Muhammadiyah’ Bukan Sikap Resmi Organisasi Dibawah Kepemimpinan Listyo Sigit Polri Hadir Sebagai Aktor Pembangunan Nasional Destinasi Wisata Alam Menarik di Kabupaten Bone Bolango Ketahuan ‘Kumpul Kebo’ Siap-siap Dipidana di KUHP Baru

POLITIK

Mantan Jaksa Agung Sebut Praktik Orba Masih Berlanjut hingga Kini

badge-check


					Foto: dok. Detik Perbesar

Foto: dok. Detik

INAnews.co.id, Jakarta– Mantan Jaksa Agung RI periode 1999-2001, Marzuki Darusman, mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi bangsa Indonesia yang masih terjebak dalam praktik-praktik warisan Orde Baru. Dalam sebuah diskusi komprehensif, pekan lalu di Jakarta, aktivis HAM senior ini menyerukan perlunya konsensus baru untuk mengubah orientasi nasionalisme Indonesia.

Darusman menegaskan bahwa Indonesia mengalami kemerosotan kehidupan nasional sejak tragedi 1965 yang hingga kini belum terselesaikan. “Kemerosotan kehidupan nasional itu adalah sebagai akibat dari tragedi besar pada tahun 1965, dan sampai hari ini adalah masalah yang belum terselesaikan,” ujar pria yang pernah menjabat sebagai Ketua Komisi Penyelidik Internasional PBB untuk Myanmar ini.

Menurut Darusman, pasca-1965 Indonesia menjelma menjadi apa yang disebutnya sebagai “Negara Keamanan Nasional Indonesia” – sebuah sistem pemerintahan yang menyelenggarakan kekuasaan berdasarkan isu keamanan nasional dengan ciri-ciri kontrol, kepatuhan, penekanan, hingga kebijakan berdimensi teror.

“Praktik-praktik dari Orde Baru itu berlanjut sampai hari ini. Praktik-praktik yang bersumber pada satu corak penyelenggaraan kekuasaan yang bersumber pada hakikat National Security State,” tegas Darusman.

Ia menilai sistem tersebut telah menyebabkan bangsa Indonesia mengalami kelumpuhan kesadaran dan kesejahteraan, serta keterbelakangan yang termanifestasi dalam pemiskinan intelektual masyarakat. Kondisi ini memunculkan corak kenegaraan yang dihadapkan dengan semangat nasionalisme agresif yang penuh kecemasan, keangkuhan, dan kecurigaan.

Darusman menyerukan perlunya perubahan paradigma dari nasionalisme agresif menuju nasionalisme berkemanusiaan dan progresif. Menurutnya, Indonesia sebagai negara pertama yang menyatakan kemerdekaan dalam konstelasi internasional pasca Perang Dunia II seharusnya dapat menginspirasi gerakan-gerakan kemerdekaan di seluruh dunia.

“Hari ini kita ingin merumuskan dan mencapai satu konsensus baru dengan cara bagaimana kita melihat diri sebagai bangsa, beralih dari nasionalisme agresif yang sarat kecemasan menjadi nasionalisme yang berkemanusiaan dan progresif,” kata mantan anggota Komnas HAM ini.

Diskusi yang berlangsung menggunakan teknik komunitas yang mengedepankan interaksi dan diskusi ini dimaksudkan bukan untuk menyampaikan kesimpulan final, melainkan memulai konsensus baru untuk melihat dengan cara yang berbeda bagaimana perjalanan bangsa Indonesia ke depan.

Darusman menekankan bahwa momentum ini penting sebagai refleksi terhadap perjalanan sejarah Indonesia yang menurutnya mengalami kemunduran sejak tragedi 1965, setelah sebelumnya mengalami kecemerlangan dalam membangun solidaritas internasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Model Overlapping Generation Ungkap Dampak MBG

12 Januari 2026 - 13:38 WIB

Ketahuan ‘Kumpul Kebo’ Siap-siap Dipidana di KUHP Baru

9 Januari 2026 - 11:15 WIB

Amien Rais Sebut KUHP Baru Gerbang Otoritarianisme

9 Januari 2026 - 10:11 WIB

Populer POLITIK