INAnews.co.id, Jakarta– Presiden KSPI Said Iqbal menggunakan retorika yang mengkhawatirkan dengan menyatakan akan “melawan dan menolak” kelompok yang dianggap ingin melemahkan pemerintahan Prabowo Subianto.
“Segala upaya, segala cara, segala fitnah ataupun cara-cara mengadu domba bangsa ini untuk membuat pemerintah menjadi lemah – KSPSI AGN dan KSPI akan melawan dan menolak,” ujar Said Iqbal dengan nada tegas saat konferensi pers, Senin (15/9/2025).
Penggunaan kata “melawan” dan “menolak” terhadap pihak yang mengkritik pemerintah menunjukkan sikap intoleran terhadap oposisi demokratis. Ini berbahaya bagi iklim demokrasi Indonesia yang seharusnya menghargai perbedaan pendapat.
Said Iqbal bahkan tidak segan menyebut kritik terhadap pemerintah sebagai “fitnah” dan “mengadu domba”, framing yang biasa digunakan rezim otoriter untuk membungkam oposisi.
Lebih mengkhawatirkan lagi, Iqbal menyebarkan teori konspirasi tanpa bukti dengan menduga kerusuhan adalah “serangan balik” dari “mafia minyak”, “mafia kelapa sawit ilegal”, dan “mafia tambang ilegal”.
“Patut diduga menurut kami – ya belum tentu benar tapi patut diduga – mereka melakukan serangan balik untuk melumpuhkan kebijakan Presiden Prabowo,” ujarnya.
Penyebaran dugaan tanpa bukti seperti ini dapat memperkeruh situasi dan menciptakan kambing hitam untuk mengalihkan perhatian dari masalah sesungguhnya.
Sikap KSPI yang mengubah peran dari watchdog pemerintah menjadi cheerleader menimbulkan pertanyaan serius tentang independensi organisasi buruh ini. Apakah KSPI masih memperjuangkan kepentingan pekerja atau telah menjadi alat politik pemerintah?






