INAnews.co.id, Jakarta– Ketika Malaysia mengumumkan telah menyiapkan 13 kapal untuk misi kemanusiaan ke Gaza, Indonesia tersindir. Dalam satu pertemuan dadakan, 25 NGO berkumpul dan hanya dalam 30 menit, dana Rp10 miliar lebih terkumpul untuk membeli tujuh kapal.
“Masa Indonesia negara besar enggak kirim kapal?” ujar Muhammad Husein, aktivis yang telah 12 tahun tinggal di Gaza, mengenang momen itu dalam wawancara dengan Akbar Faizal di kanal YouTube-nya diunggah Kamis (9/10/2025)
Malam itu, satu per satu lembaga angkat tangan. INH (International Networking for Humanitarian) yang dipimpin Husein mengkomitmenkan satu kapal senilai Rp1,6 miliar. Disusul Rumah Zakat, Dompet Dhuafa, Nusantara Adara, Adara Relief, Spirit of Aceh, dan 19 lembaga lainnya.
“Ini pertama kali dalam sejarah NGO kemanusiaan Indonesia, 25 lembaga bergabung dalam satu proyek bersama,” kata Husein bangga.
Global Sumud Flotilla adalah gerakan nonviolence yang melibatkan 500 aktivis dari 47 negara, bertujuan menembus blokade Israel dan membuka koridor kemanusiaan ke Gaza.
Indonesia tidak hanya mengirim kapal, tetapi juga 30 lebih aktivis yang siap berlayar. Namun karena dinamika lapangan, akhirnya hanya tiga orang Indonesia yang berangkat, dengan Husein sebagai satu-satunya yang berhasil berlayar hingga zona merah intersepsi Israel.
“Kami bukan pahlawan. Ini adalah basic humanity – gerakan dasar agar kita masih layak disebut manusia,” tegas Husein.






