INAnews.co.id, Jakarta– Pernyataan Ketua Umum Projo (Relawan Pro Jokowi) Budi Arie Setiadi yang menyatakan ketertarikannya bergabung dengan Partai Gerindra menuai spekulasi di kalangan publik. Pernyataan tersebut disampaikan secara terbuka dalam Kongres Projo Ketiga yang digelar baru-baru ini.
Pengamat politik Adi Prayitno menilai, pernyataan Budi Arie memiliki beberapa dimensi yang menarik untuk dicermati. Dalam analisisnya yang diunggah di kanal YouTube pada Ahad (2/11/2025), ia memaparkan tiga kemungkinan makna di balik langkah politik ketua umum Projo tersebut.
Pilihan Realistis Menuju Kekuasaan
Menurut Prayitno, pilihan Budi Arie untuk bergabung dengan Gerindra merupakan langkah realistis mengingat partai politik masih menjadi instrumen paling powerful untuk meraih kekuasaan di Indonesia. “Wajar kalau orang seperti Budi Arie yang pernah menjadi menteri tertarik bergabung dengan Gerindra. Ini adalah partai penguasa, partai pemenang Pilpres 2024,” ujarnya.
Ia menjelaskan, untuk mendapatkan posisi strategis seperti menteri, wakil menteri, atau akses kekuasaan politik lainnya, seseorang harus melalui jalur partai politik sebagaimana diatur dalam berbagai undang-undang.
Indikasi Meninggalkan Jokowi?
Yang menjadi sorotan publik adalah adanya spekulasi bahwa Budi Arie secara perlahan mulai meninggalkan Jokowi. Hal ini mengundang pertanyaan mengingat Projo selama ini dikenal sebagai relawan paling solid dan militan yang selalu memberikan dukungan penuh kepada Jokowi.
Beberapa indikator yang menguatkan spekulasi tersebut antara lain:
- Memilih Gerindra, Bukan PSI
Publik menganggap jika Projo ingin tetap setia kepada Jokowi, seharusnya Budi Arie mengarahkan organisasinya ke PSI yang dipersepsikan sebagai partai politik Jokowi saat ini. Namun, pilihan justru jatuh pada Gerindra.
- Transformasi Logo Projo
Budi Arie mengungkapkan akan mengubah logo Projo yang selama ini memuat foto Jokowi. Langkah ini dilakukan untuk menghindari kesan kultus individu. Padahal, Projo selama ini sangat bangga memasang foto Jokowi di logo mereka.
- Perubahan Makna Projo
Budi Arie juga menyatakan bahwa Projo bukan lagi singkatan dari “Pro Jokowi” melainkan berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti rakyat atau negeri, sehingga diartikan sebagai “cinta negeri” atau “cinta rakyat”.
“Dulu Projo sangat senang dan bangga ketika logo mereka ada Pak Jokowi. Tapi sekarang perlahan sudah mulai dihilangkan hanya karena ingin menghindari kesan kultus terhadap individu,” kata Adi.
- Strategi Sukseskan Duet Prabowo-Gibran 2029?
Kemungkinan ketiga yang disampaikan Adi adalah bahwa ini merupakan strategi untuk mensukseskan duet kembali antara Prabowo Subianto dengan Gibran Rakabuming Raka pada Pilpres 2029. Hingga kini, relawan politik Jokowi dan orang-orang di sekitarnya masih memiliki intensi kuat untuk kembali menghadirkan pasangan Prabowo-Gibran untuk periode kedua.
“Dalam konteks ini, Projo atau Budi Arie tetap dianggap sebagai bagian dari Pak Jokowi, tetapi secara politik sedang melakukan pendekatan dengan pemerintah untuk mensukseskan kembali duet politik Prabowo-Gibran,” jelasnya.
Gerindra Belum Beri Respons
Hingga saat ini, Partai Gerindra belum memberikan pernyataan resmi menanggapi keinginan Budi Arie untuk bergabung. Publik masih menanti respons dari kubu Gerindra terkait pernyataan ketua umum Projo tersebut.
Prayitno menutup analisisnya dengan menyerahkan interpretasi kepada publik mengenai makna di balik manuver politik Projo dan Budi Arie ini. “Monggo ditafsirkan masing-masing, kira-kira apa makna di balik manuver politik Projo dan Budi Arie ini,” ujarnya.






