INAnews.co.id, Jakarta– Stigma Jokowi sebagai sosok yang gemar “cawe-cawe” (ikut campur) terus melekat, bahkan setelah tidak lagi menjabat sebagai presiden.
Publik menuding, hubungan baik Prabowo-Jokowi yang terlalu akrab menimbulkan kesan bahwa Jokowi masih memiliki pengaruh besar dalam pemerintahan.
Dalam Pilpres 2024, Jokowi berjanji tidak akan cawe-cawe, namun banyak pihak menilai kebijakan dan pengaruh politiknya justru menguntungkan salah satu calon—yang kini menjadi presiden.
Kini, dengan Prabowo yang mengklaim sering meminta masukan dari Jokowi, pertanyaannya: di mana batas antara “meminta saran” dan “dikendalikan”?
“Konsep keberlanjutan memang masuk akal. Tapi ketika setiap langkah Prabowo selalu dikaitkan dengan Jokowi, itu menunjukkan ada masalah dalam persepsi kemandirian kepemimpinannya,” kritik Adi Prayitno lewat kanal YouTube yang diunggah Sabtu.






