Menu

Mode Gelap
Muhammadiyah Tegaskan ‘Aliansi Muda Muhammadiyah’ Bukan Sikap Resmi Organisasi Dibawah Kepemimpinan Listyo Sigit Polri Hadir Sebagai Aktor Pembangunan Nasional Destinasi Wisata Alam Menarik di Kabupaten Bone Bolango Ketahuan ‘Kumpul Kebo’ Siap-siap Dipidana di KUHP Baru Amien Rais Sebut KUHP Baru Gerbang Otoritarianisme Mendesak Indonesia Kritik Keras Kebijakan AS soal Venezuela

NASIONAL

Indonesia Hanya 5 Persen Populasi yang Aktif Gunakan ChatGPT

badge-check


					Foto: dok. ist Perbesar

Foto: dok. ist

INAnews.co.id, Jakarta– Muhammad Hanif, Founder AI for Productivity, mengungkapkan bahwa hanya 5 persen dari total populasi Indonesia yang aktif menggunakan AI seperti ChatGPT atau Gemini, menunjukkan kesenjangan literasi digital yang sangat besar.

“Kalau berdasarkan statistik, yang aktif di Indonesia hanya 5% dari total population yang aktif memakai. Itupun yang aktif memakai, bukan yang memakai dengan benar. Yang memakai dengan benar lebih kecil lagi angkanya,” ungkap Hanif dalam Indonesia Leaders Talk, Jumat (14/11/2025).

Hanif, yang baru saja resign dari pekerjaannya di agensi Singapura untuk fokus mengembangkan platform edukasi AI di Indonesia, menyoroti kesenjangan yang tinggi antara mereka yang mengikuti perkembangan teknologi dengan masyarakat awam.

“Ketika kita ngomongin sama orang awam, mereka benar-benar tidak tahu tentang apa yang terjadi di dunia AI ini. Ada gap yang sangat tinggi,” jelasnya.

Ia berbagi pengalaman saat memberikan training di perusahaan. “Ada beberapa peserta training yang sama sekali belum pernah pakai ChatGPT atau Gemini, padahal sudah berapa bulan sejak viral. Ini masih banyak banget, terutama di Indonesia,” katanya.

Hanif membedakan tingkat adopsi AI berdasarkan skala perusahaan. Perusahaan multinasional umumnya sudah memiliki tim khusus untuk mengembangkan AI, bahkan terpisah dari tim IT. Namun untuk SMB (Small and Medium Business) dan UMKM, situasinya jauh berbeda.

“Kalau yang di SMB, perusahaan UMKM dan kecil menengah, malah menurut saya masih belum efektif. Berdasarkan training-training yang saya lakukan, mereka masih zero. Mereka mungkin tahu tentang ChatGPT, tahu tentang generative AI, tapi mereka benar-benar belum memanfaatkan AI,” ungkapnya.

Yang mengejutkan, dukungan justru datang dari perusahaan luar negeri. “Lucunya, saya ngobrol sama Google dari Google US, mereka tertarik untuk kerja sama mengedukasi masyarakat Indonesia gimana mereka bisa pakai AI untuk building something dengan coding. Tapi dari pemerintah kita malah belum ada program sama sekali,” keluh Hanif.

Ia menegaskan bahwa gap literasi AI ini menjadi PR besar untuk edukator, pemerintah, dan perusahaan dalam melakukan edukasi ke masyarakat Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Ketahuan ‘Kumpul Kebo’ Siap-siap Dipidana di KUHP Baru

9 Januari 2026 - 11:15 WIB

Mendesak Indonesia Kritik Keras Kebijakan AS soal Venezuela

9 Januari 2026 - 08:39 WIB

KUHAP Baru soal Restorative Justice secara Konsep Kacau, Kata Pakar

8 Januari 2026 - 12:28 WIB

Populer HUKUM