Menu

Mode Gelap
Muhammadiyah Tegaskan ‘Aliansi Muda Muhammadiyah’ Bukan Sikap Resmi Organisasi Dibawah Kepemimpinan Listyo Sigit Polri Hadir Sebagai Aktor Pembangunan Nasional Destinasi Wisata Alam Menarik di Kabupaten Bone Bolango Ketahuan ‘Kumpul Kebo’ Siap-siap Dipidana di KUHP Baru Amien Rais Sebut KUHP Baru Gerbang Otoritarianisme Mendesak Indonesia Kritik Keras Kebijakan AS soal Venezuela

PENDIDIKAN

Jakarta Initiative Workshop 2025, Fenomena Adiksi Masyarakat

badge-check


					Jakarta Initiative Workshop 2025, Fenomena Adiksi Masyarakat Perbesar

INAnews.co.id, Jakarta – Yayasan Lingkaran Indonesia Peduli (YLIP) bersama Universitas Paramadina menggelar Jakarta Initiative Workshop 2025, sebuah lokakarya intensif yang menyoroti fenomena adiksi di masyarakat.

Tidak hanya membahas narkoba, forum ini juga fokus pada adiksi perilaku seperti judi online, pornografi, game online, hingga penggunaan media sosial yang berlebihan.

Workshop ini berlangsung selama tiga hari dengan menghadirkan trainer internasional, termasuk dari Singapura, serta diikuti peserta dari berbagai daerah seperti Pekanbaru, Palembang, Padang, Bogor, hingga Jakarta.

 

Sebagian besar peserta merupakan pengelola rehabilitasi adiksi yang sehari-hari menangani klien pengguna narkoba, sekaligus menghadapi tren baru berupa adiksi ganda.

“Sekarang banyak klien yang tidak hanya menggunakan narkoba, tapi juga terjerat adiksi lain seperti judi online, pornografi, dan game online. Ini membuat kualitas hidup mereka makin memburuk. Karena itu, penting bagi kami meningkatkan kapasitas tenaga rehabilitasi agar bisa memberi pendampingan lebih komprehensif,” ujar Steve Christoph, International Certified Prevention Specialist, Koordinator Pengembangan Program YLIP.

Dalam sesi pembuka,Tia Rahmania, M.Psi, Psikolog, Dosen Prodi Psikologi Universitas Paramadina dan Dewan Pakar YLIP, sekaligus narasumber menekankan keresahan masyarakat terhadap fenomena internet addiction.

Menurutnya, perkembangan teknologi digital memang membawa sisi positif, namun juga memunculkan tantangan serius berupa kecanduan media sosial dan game online.

“Kita tahu kehidupan sekarang tidak bisa lepas dari internet. Tapi jika tidak dikelola, akan menimbulkan adiksi yang berpengaruh buruk pada perilaku anak dan remaja. Ada yang tantrum saat gadget diambil, hingga prestasi belajar menurun. Ini harus jadi perhatian serius jika kita ingin menyambut Indonesia Emas 2045,” tegas Tia.

Hal senada disampaikan Dr. Fatchiah E Kertamuda, MSc Wakil Rektor Universitas Paramadina dan Dewan Pakar YLIP menekankan pentingnya peran komunikasi keluarga dalam mencegah adiksi.

“Keluarga adalah agen utama yang harus menjadi tempat aman bagi anak-anak. Komunikasi yang sehat, dengan respek, kepercayaan, dan berpikir positif, adalah kunci mencegah mereka terjerat aktivitas berisiko. Banyak kasus narkoba atau kriminalitas berawal dari komunikasi keluarga yang tidak berjalan baik,” jelas Fathia.

Ia menambahkan, harmonisasi dalam keluarga akan menjadi fondasi kuat agar generasi mendatang terlindungi dari dampak buruk adiksi.

Selain itu, narasumber juga mengulas perbedaan dan kesamaan penanganan antara adiksi zat dan adiksi perilaku seperti perjudian.

Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah Motivational Interviewing (MI) untuk menggali motivasi individu agar bisa keluar dari lingkaran adiksi.

“Adiksi memang terlihat sebagai penyakit individual, tapi dampaknya luas bagi keluarga dan komunitas. Karena itu, intervensi harus holistik. Bisa dimulai dari individual counseling, kemudian dilanjutkan dengan grup counseling seperti close group atau model 12 steps. Pada tahap berikutnya, keluarga juga harus dilibatkan melalui psycho-education, agar mereka bisa mendukung proses pemulihan, bukan justru memperkuat perilaku adiksi,” papar narasumber.

Meski baru pertama kali digelar dengan format ini, antusiasme peserta cukup tinggi. Kuota 30 peserta yang tersedia terisi penuh. Ke depan, penyelenggara berharap Jakarta Inisiatif Workshop dapat berlangsung rutin minimal setahun sekali, dengan dukungan CSR, pemerintah, maupun lembaga sertifikasi resmi.

“Harapan kami sederhana: ada keberlanjutan. Supaya para praktisi tetap semangat dan termotivasi meningkatkan kompetensinya. Karena jumlah penderita adiksi di Indonesia adalah yang terbesar di Asia Tenggara, maka kebutuhan peningkatan kapasitas ini juga semakin mendesak,” pungkas Steve.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

RPL Talk: Pengalaman Industri Hospitality & Pariwisata Jadi “Golden Ticket” Kuliah Lagi di Institut STIAMI

7 Januari 2026 - 08:16 WIB

RPL Talk: Pengalaman Industri Hospitality & Pariwisata Jadi “Golden Ticket” Kuliah Lagi di Institut STIAMI

NU tak Bisa Dikooptasi: Kepala Dipegang, Ekor Belum Tentu Ikut

5 Januari 2026 - 21:32 WIB

Dari Gereja Sentani, Zita Anjani Sampaikan Pesan Kasih untuk Indonesia

5 Januari 2026 - 08:31 WIB

Dari Gereja Sentani, Zita Anjani Sampaikan Pesan Kasih untuk Indonesia
Populer SOSDIKBUD