INAnews.co.id, Jakarta– Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diprediksi bergerak fluktuatif dalam arah melemah ke kisaran Rp16.620-Rp16.640 per USD pada perdagangan Kamis (4/12/2025), setelah ditutup pada Rp16.628 sehari sebelumnya. Berdasarkan data Bloomberg yang dikutip, rupiah telah melemah lebih dari 3% terhadap dolar AS sepanjang 2025, menjadikannya salah satu mata uang terlemah di Asia akibat kekhawatiran investor terhadap disiplin fiskal, lemahnya konsumsi domestik, serta gejolak perdagangan global.
Sentimen ini diperparah oleh pemangkasan suku bunga acuan Bank Indonesia sebesar 125 basis poin tahun ini, yang menekan daya tarik aset Indonesia.
Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan prioritas stabilitas nilai tukar melalui intervensi pasar valuta asing, sinyal yang dinilai mengurangi kecenderungan dovish bank sentral. Arus keluar obligasi mencapai signifikan sejak September, dengan penjualan bersih dana asing di saham sekitar US$1,8 miliar tahun ini, meski ada arus masuk pasar saham baru-baru ini.
Data neraca pembayaran juga mencatat kesalahan dan kelalaian bersih US$2,36 miliar, tertinggi sejak 2011.
Ekonom memperkirakan rupiah bisa menguat ke Rp16.000-Rp16.500 pada 2026 seiring pelemahan dolar AS, meski akhir 2025 diproyeksi di sekitar Rp16.700. Pada 3 Desember 2025, kurs USD/IDR mencapai 16.623,6000, naik 0,04% dari sesi sebelumnya, dengan tren bulanan penguatan 0,54% namun pelemahan tahunan 4,57%. BI meningkatkan lelang SRBI untuk menjaga stabilitas.*






