INAnews.co.id, Jakarta– Wakil Menteri Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi Stella Christie menegaskan perlunya mengembalikan marwah perguruan tinggi Indonesia sebagai pusat lahirnya inovasi, bukan sekadar tempat belajar yang lebih sulit dari SMA.
“Perguruan tinggi berbeda sekali dengan SMA. Perguruan tinggi adalah tempat di mana kita melahirkan inovasi,” tegas Stella saat ditanya soal politisasi kampus di wawancara dengan Akbar Faizal, Kamis.
Ia menyoroti keliru persepsi tentang perguruan tinggi di Indonesia. “Kita memikirkan perguruan tinggi itu seperti SMA tapi jauh lebih sulit. Padahal tidak,” jelasnya.
Menurut Stella, mahasiswa seharusnya diajarkan research mindset untuk melahirkan inovasi baru melalui riset sistematis. “Riset itu menanyakan pertanyaan dan secara sistematis menjawab pertanyaan tersebut. Dalam proses itulah kita akan melahirkan sesuatu yang baru,” ujarnya.
Untuk mewujudkan ini, Stella fokus pada dua parameter: dana dan regulasi. Ia telah berhasil mengubah kebijakan agar 50% dari dana riset Rp3,2 triliun memberikan insentif langsung kepada peneliti.
Sebelumnya, dosen yang memenangkan hibah riset tidak boleh mendapat apapun untuk dirinya sendiri, hanya untuk beli alat.
Soal politisasi kampus, Stella menolak menjawab langsung apakah setuju menghapus hak suara menteri 30 persen dalam pemilihan rektor.
“Kita harus melakukan system analysis. Kalau kita ambil satunya, apakah itu akan rubuh semua atau memperkuat jaringnya?” katanya bijak.






