INAnews.co.id, Jakarta– Pengamat politik Muhammad Said Didu mengulas dominasi kelompok usaha besar dalam ekonomi Indonesia yang menurutnya telah melampaui batas kewajaran. Dalam diskusi YouTube Selasa (16/12/2025), ia menyebut nama-nama konglomerat yang ekspansinya masif.
Said Didu mencontohkan Sinar Mas yang dimulai dari pedagang minyak goreng menggunakan sepeda ontel pada tahun 1930-an, kini menguasai 6-9 juta hektar kebun sawit dan hampir seluruh wilayah Tangerang.
“Bagi orang yang tahu Tangerang, ini hampir semuanya sudah Sinar Mas. Enggak ada lagi,” katanya.
Astra yang dahulu dikenal sebagai penjual mobil dan motor, kini menjadi pekebun, penguasa hutan, dan memiliki Astraland di berbagai tempat. Demikian pula Indofood yang mendapat monopoli terigu dari Soeharto, kini merambah lahan dan real estate dengan PIK 2 milik grup Antoni Salim.
“Jadi semua dirambah. Pertanyaan saya, masih adakah harapan Indonesia mengembalikan kembali kedaulatannya? Saya melihat semakin sempit sekarang,” ujarnya pesimis.
Said Didu juga mengungkap bahwa oligarki menguasai ekspor impor pangan sebagai sumber kantong mereka. Kebijakan dirancang sedemikian rupa sehingga hanya oligarki yang bisa bermain, seperti impor beras atau gula yang diberi waktu hanya tiga bulan sehingga yang mampu membiayai hanya oligarki.
Bahkan kebijakan BBM pun dirancang oligarki. “Spesifikasi BBM yang bisa diimpor ke Indonesia adalah spesifikasi yang diproduksi di Singapura dan itu oligarki yang menentukan,” ungkapnya.






