INAnews.co.id, Jakarta– Ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar minyak (BBM) terus meningkat, mencapai 1,67 juta barel per hari, sementara lifting minyak nasional hanya 600.000 barel per hari. Kondisi ini memperburuk neraca perdagangan dengan impor BBM menyerap 9 persen dari total impor nasional atau setara Rp500 triliun per tahun.
Wakil Ketua Komisi XII DPR RI, Sugeng Suparwoto, menyoroti proven reserve minyak Indonesia yang kini tinggal 2,4 miliar barel dengan kapasitas kilang terpasang hanya 1,1 juta barel per hari dan kapasitas produksi 800.000 barel per hari.
“Ini paradoks. Konsumsi BBM kita 1,67 juta barel per hari, produksi kilang hanya 800.000 barel. Sisanya impor, baik crude maupun minyak jadi,” ungkap Sugeng dalam seminar nasional yang diselenggarakan INDEF di Jakarta, belum lama ini.
Untuk mengatasi masalah ini, pemerintah mendorong program biodiesel B50 yang diperkirakan mampu mengurangi impor BBM dari 53 perse. menjadi 32 persen pada 2035. Namun, kebijakan ini memerlukan alokasi subsidi tambahan yang signifikan dari BPPDPKS.






