INAnews.co.id, Jakarta– Demonstrasi besar-besaran pada Agustus 2024 bukanlah puncak dari ketidakpuasan rakyat, melainkan pertanda akan datangnya gejolak yang lebih besar.
Peringatan ini disampaikan jurnalis senior Farid Gaban dalam perbincangan di Forum Keadilan TV yang ditayangkan Selasa (23/12/2025).
“Agustus kemarin itu bukan puncak kalau menurut saya. Jadi kalau sesuatu enggak dibenerin, ya akan makin parah dan itu akan ambruk dengan sendirinya,” kata Farid.
Ia mencatat bahwa demonstrasi Agustus 2024 merupakan demonstrasi terbesar ketiga di era reformasi, setelah demonstrasi kasus korupsi KPK pada 2009 dan penolakan Omnibus Law menjelang COVID-19.
“Ini sudah tiga kali dan sepertinya perundingannya akan berhenti. Artinya eskalasinya akan makin. Jadi orang harus melihat, tiga demonstrasi terbesar sepanjang sejarah reformasi,” ungkapnya.
Farid memprediksi pemicu chaos akan bersifat ekonomis, terutama terkait beban utang negara yang sangat besar. Tahun depan, pemerintah harus membayar 1.300 triliun untuk bunga dan cicilan utang, memaksa pemerintah daerah menaikkan pajak.
“Ketika tekanan utang begitu besar, pemerintah daerah harus menarik pajak yang makin besar. Masyarakatnya akan langsung berhadapan. Nah, menurut saya itu yang tahun depan bisa terjadi,” jelasnya.
Meski demikian, Farid mengakui dari perjalanannya keliling Indonesia, masyarakat masih memiliki kesabaran yang sangat besar. Namun ia mengingatkan, kesabaran itu juga ada batasnya.
“Pada level tertentu enggak bisa enggak. Itu seperti meledak begitu saja,” tegasnya.






