INAnews.co.id, Jakarta– Membedah kontradiksi kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) yang dianggap “berhalusinasi” dengan menargetkan pertumbuhan tinggi, sementara instrumen yang digunakan justru meredam penyaluran kredit ke sektor riil.
Analis INDEF Eko Listiyanto memberikan catatan pedas terhadap kinerja kebijakan moneter 2025. Meski BI Rate diturunkan lima kali menjadi 4,75 persen untuk mendorong pertumbuhan, hasilnya nihil. Pertumbuhan ekonomi tetap stagnan di sekitar 5 persen. Eko menuding instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sebagai biang keladi. “SRBI ini cukup melenakan bagi bank,” katanya, Senin (29/12/2025).
Dengan imbal hasil SRBI yang menarik (4-5%), perbankan lebih memilih “cuan” instan ini daripada menyalurkan kredit yang berisiko ke sektor riil. Akibatnya, pertumbuhan kredit hanya menyentuh 7,76 persen, jauh dari angka 15-20 persen yang secara historis diperlukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di atas 6 persen,
“Kalau mau 6 persen, harus berani mentargetkan kredit dua kali lipat dari capaian saat ini,” tegas Listianto. Ia menyimpulkan, selama ketergantungan pada SRBI tinggi, target pertumbuhan 6-8 persen hanyalah “halusinasi”.






