INAnews.co.id, Jakarta– Bencana banjir bandang disertai tanah longsor yang terjadi akhir tahun lalu di Distrik Dal, Kabupaten Nduga, Papua Pegunungan menimbulkan dampak yang sangat besar bagi masyarakat setempat. Peristiwa ini telah menewaskan puluhan warga serta membuat sejumlah orang hilang dan rumah-rumah warga rusak parah.
Anggota Komisi VIII DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Matindas Janusanti Rumambi, menyatakan belasungkawa kepada keluarga korban serta prihatin atas kondisi penduduk yang kehilangan tempat tinggal. Ia menekankan bahwa kondisi geografis pegunungan Papua yang berbukit-bukit serta curah hujan tinggi membuat daerah tersebut sangat rentan terhadap bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor.
Ia meminta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan pemerintah daerah memperkuat sistem mitigasi bencana, terutama sistem peringatan dini dan kesiapsiagaan masyarakat di wilayah rawan. Menurutnya, kesiapan sejak awal sangat penting untuk mempercepat evakuasi ketika kejadian serupa terulang.
BNPB sendiri secara nasional tengah mengembangkan berbagai sistem early warning seperti Flood Early Warning System (FEWS) dan Landslide Early Warning System (LEWS) di sejumlah daerah untuk memberi peringatan lebih cepat kepada masyarakat saat hujan ekstrem atau potensi longsor meningkat. Tujuannya adalah meningkatkan kesadaran dan mengurang ikorban jiwa serta kerusakan harta benda.
Pentingnya Pelestarian Lingkungan dalam Mencegah Banjir dan Longsor
Bencana seperti yang terjadi di Nduga sering dipicu oleh kombinasi curah hujan tinggi serta kerusakan lingkungan. Hal ini sejalan dengan laporan BNPB bahwa hujan deras dan aliransungai yang meluap merupakan faktor utama terjadinya banjir bandang dan longsor.
Pelestarian lingkungan memiliki peran penting dalammengurangi risiko bencana:
1. Hutan sebagai Penahan Air
Hutan dan vegetasi asli berfungsi menyerap air hujan dan menjaga kestabilan tanah. Ketika hutan ditebang atau lahan dibuka tanpa pengelolaan baik, tanah menjadi mudah labil dan air hujan langsung mengalir turun dengan cepat → meningkatkan risiko longsor dan banjir.
2. Pengelolaan DAS (Daerah Aliran Sungai)
Daerah aliran sungai yang sehat dengan vegetasi dan lahan resapan yang terjaga membantu menahan kenaikan permukaan air saat hujan deras. Penggundulan lahan ikut mempercepat aliran air ke sungai sehingga banjir lebih besar.
3. Pertanian dan Tata Ruang Berkelanjutan
Pengaturan penggunaan lahan yang baik (tidak menempatkanpermukiman di kawasan rawan, buatan terasering di lahanmiring, serta konservasi tanah) dapat mengurangi kerusakan dan dampak bencana jika hujan ekstrem terjadi.
4. Kesadaran dan Partisipasi Masyarakat
Kesiapsiagaan masyarakat melalui edukasi pelestarian lingkungan, pemantauan hujan, dan tahu rute evakuasi dibantu sistem peringatan dini seperti yang didorong DPR dan BNPB sangat penting untuk menyelamatkan nyawa.
- Peristiwa banjir bandang dan longsor di Nduga bukan hanya tragedi kemanusiaan, tetapi juga pangilan penting untuk memperkuat:
Sistem peringatan dini dan kesiapsiagaan bencana di daerahrawan; - Pelestarian lingkungan dan pengelolaan tata ruang yang berkelanjutan;
- Kesadaran publik tentang pentingnya menjaga alam sebagai bentuk mitigasi jangka panjang.
Dengan kombinasi teknologi peringatan dini dan perlindungan lingkungan, risiko korban dan kerusakan akibat bencana alam dapat diminimalkan secara signifikan di masa depan. Seputar lingkungan bisa akses: DLH Nduga.*






