Menu

Mode Gelap
70 Juta Warga Indonesia Dapat Pemeriksaan Kesehatan Gratis Seumur Hidup Kerawanan Pangan Papua Tetap Tinggi, Kemiskinan Jadi Faktor Utama Reformasi Polri-Kejaksaan-KPK Rampung Maret 2026? Indonesia Tidak Pernah Gagal Bayar Utang Ketergantungan Gandum Ancam Ketahanan Pangan Operasi Penertiban Morowali Dihentikan oleh Menhan karena Dua Alasan Ini?

HOT ISU

Sekum INKOPPAS Minta Pemerintah Buka Keran Impor, Imbas Mogok Pedagang Daging

badge-check


					Foto: Andrian Lame Muhar Perbesar

Foto: Andrian Lame Muhar

INAnews.co.id, Jakarta– Sekretaris Umum Induk Koperasi Pedagang Pasar (Sekum INKOPPAS) Andrian Lame Muhar menyatakan pedagang daging di sejumlah pasar tradisional memilih menghentikan sementara penjualan sebagai bentuk keprihatinan atas melonjaknya harga daging sapi yang mencapai Rp140.000 per kilogram, bahkan Rp200.000 di wilayah BSD.

“Pedagang berpikir kalau menjual dengan harga terlalu tinggi, sementara daya beli masyarakat sedang turun, pasti pembeli akan berkurang. Daripada biaya stok terlalu tinggi, lebih baik mereka sementara menghentikan penjualan,” ujar Andrian Lame Muhar, Kamis (22/1/2026), di Jakarta.

Aksi mogok dilakukan pedagang daging di beberapa pasar, termasuk Rawamangun dan Parung Panjang. Pedagang di Rawamangun bahkan menyatakan tidak akan berjualan hingga tahun 2024 (maksudnya hingga kondisi membaik).

Lame, sapaan akrabnya, menjelaskan kenaikan harga sudah berlangsung sejak sebulan terakhir dengan berbagai faktor penyebab. Pertama, importasi sedang diperketat pemerintah. Kedua, negara pengekspor sedang menata ulang strategi ekspor mereka. Ketiga, impor anakan sapi membutuhkan biaya tambahan untuk pakan dan tempat, ditambah cuaca buruk yang mempersulit penyediaan pakan.

“Ditambah kita memasuki libur panjang kemarin dan sebentar lagi Ramadan, permintaan sedang tinggi tapi pasokan sedikit. Ada ketimpangan antara suplai dan permintaan,” jelasnya.

Faktor lain yang memperparah situasi adalah isu adanya pengusaha yang menyimpan stok daging untuk persiapan dapur umum program Bergizi Gratis Nasional (BGN).

Lame menyampaikan tiga saran kepada pemerintah. Pertama, membuka keran impor secepat mungkin ketika terjadi kekurangan pasokan daging lokal. Kedua, menjalin kerja sama bilateral dengan negara produsen agar memberikan harga khusus untuk Indonesia. Ketiga, meningkatkan kualitas peternak lokal agar dapat bersaing di pasaran.

“Jangan sampai importasi dikuasai segelintir pengusaha besar saja. Kalau bisa barang importasi langsung masuk ke pasar rakyat sehingga masyarakat bisa membelinya dengan mudah,” tegasnya.

Ia juga berharap pemerintah dapat melibatkan koperasi pedagang pasar untuk mendukung kebutuhan dana agar pedagang bisa menyimpan stok tanpa menahan anggaran terlalu lama.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, menurut informasi yang diterima Lame, telah berjanji akan menstabilkan harga dengan membuka keran impor dan mendorong peternak lokal lebih efisien dalam membesarkan sapi.

Dampak harga tinggi langsung dirasakan konsumen. Masyarakat yang biasa membeli daging dalam jumlah banyak kini mengurangi pembelian dan beralih ke ikan atau ayam. Sementara pedagang mengalami penurunan pendapatan akibat sepinya pembeli.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Harga Beras Diprediksi Terus Naik Hingga Juni 2026, Program MBG Jadi Pemicu

23 Januari 2026 - 16:19 WIB

Ketergantungan Impor Indonesia pada China Capai 30 Persen, Diversifikasi Mendesak

23 Januari 2026 - 15:18 WIB

Indonesia Raih Swasembada Beras dengan Produksi Tertinggi Sepanjang Sejarah

13 Januari 2026 - 05:59 WIB

Populer INDAG