INAnews.co.id, Jakarta– Said Didu menduga ada dua kemungkinan mengapa Ketua Harian Dewan Pertahanan Nasional Sjafrie Sjamsoeddin menghentikan operasi penertiban di Morowali. Pertama, Presiden Prabowo meminta berhenti. Kedua, sedang menyusun strategi baru.
“Kalau Pak Sjafrie berhenti, diduga ada dua dugaan. Satu bahwa memang Pak Prabowo meminta berhenti. Yang kedua, lagi menyusun strategi. Mudah-mudahan yang kedua,” kata Didu dalam wawancara di Forum Keadilan TV, Senin (19/1/2026).
Jika memang diminta berhenti oleh Presiden Prabowo, Didu menilai ada dua kemungkinan penyebabnya. Pertama, Prabowo masih segan berhadapan dengan Jokowi, oligarki, dan parpol pendukung. Kedua, penangkapan wartawan dan aktivis yang mengkritisi tambang di Morowali dengan gaya seperti menangkap teroris menjadi sinyal kepada pihak yang pro penertiban.
“Penangkapan itu bisa menjadi kode. Siapa tahu memang ada kode dari atas,” ujarnya.
Didu menyayangkan pemberhentian operasi ini karena menurutnya solusinya sangat sederhana: cabut semua fasilitas bebas pajak terhadap perusahaan yang sudah menikmati puluhan tahun tax holiday. Ia menilai tidak masuk akal memberikan tax holiday sementara Aneka Tambang, Vale, dan tambang lain yang BUMN justru membayar pajak dan tetap untung.
“Kenapa BUMN kau pajaki, perusahaan asing kau bebaskan pajak?” kritiknya.






