Menu

Mode Gelap
Lebih dari 300 Izin Tambang di Pulau Kecil Langgar UU Mempertanyakan Pertanggungjawaban Dana Jaminan Reklamasi Tambang UU Cipta Kerja Dinilai Permudah Perusakan Lingkungan Deforestasi Legal Lebih Besar dari Ilegal Sidang Sengketa Lahan di Desa Sea Memanas, Saksi Ungkap Fakta Mengejutkan, BPN Diduga Terlibat Pemalsuan Data Auriga: Pencabutan Izin 28 Perusahaan Dinilai “Pura-Pura”

POLITIK

2026 Tahun Berat untuk Ekonomi dan Demokrasi Indonesia

badge-check


					Foto: dok. ist Perbesar

Foto: dok. ist

INAnews.co.id, Jakarta– Akademisi Yanuar Nugroho memperingatkan masyarakat untuk waspada di tahun 2026 yang diprediksi akan menjadi tahun berat bagi ekonomi dan demokrasi Indonesia. Ia memberikan sejumlah catatan penting untuk berbagai kelompok masyarakat.

“Ketidaknyamanan, keresan, atau rasa tidak adil itu makin menyeruak. Saya khawatir jangan sampai pemerintah tidak bisa hadir, kemudian yang terjadi gesekan-gesekan. Kalau gesekan itu terjadi dalam keadaan ekonomi seperti ini, sosial seperti ini, itu akan berat,” kata Yanuar dalam podcast bersama Mahfud MD, Selasa (27/1/2026).

Untuk masyarakat luas, Yanuar mengingatkan agar tidak konsumtif dan menghindari pinjaman online karena kondisi ekonomi yang tidak sedang baik-baik saja. Ia juga mengajak masyarakat sipil untuk terus mengawasi layanan publik, tidak hanya program prioritas seperti MBG.

Khusus untuk akademisi, Yanuar mengajak untuk terus bersuara dan tidak hanya hidup nyaman di belakang tembok kampus. “Jadilah intelektual organik, terlibat dalam masyarakatnya,” ujarnya.

Untuk kalangan bisnis, ia mengingatkan bahwa ekonomi akan lebih berat dengan menyebut penerimaan pajak 2025 yang hanya mencapai 78,7 persen. “Artinya ekonomi belum boleh, transaksi belum berjalan, kelompok-kelompok usaha belum sepenuhnya jalan,” jelasnya.

Yanuar juga mengingatkan birokrat untuk waspada terhadap tekanan politik yang mungkin makin kencang. Ia mengajak mereka untuk tidak menderita sendirian dan mencari teman sesama birokrat yang masih bekerja dengan benar.

Untuk media, pesannya tegas: “Jangan jadi corong kuasa. Media mesti berani bilang yang benar mana.”

Mahfud MD menutup diskusi dengan mengutip hadis: “Sebaik-baik perjuangan jihad adalah kamu berbicara benar di depan penguasa yang salah.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Lebih dari 300 Izin Tambang di Pulau Kecil Langgar UU

29 Januari 2026 - 23:27 WIB

UU Cipta Kerja Dinilai Permudah Perusakan Lingkungan

29 Januari 2026 - 19:23 WIB

Subsidi Energi Fosil Rp400 Triliun Hambat Perkembangan EBT

29 Januari 2026 - 11:57 WIB

Populer ENERGI